![]() |
| SMSN 1 Kota Bekasi salah satu Sekolah Maung di Jabar |
inijabar.com, Kota Bandung – Program Sekolah Maung yang digadang-gadang menjadi sekolah unggulan baru Pemerintah Provinsi Jawa Barat ternyata menyimpan fakta menarik. Di balik tingginya jumlah pendaftar, sejumlah jalur seleksi justru sepi peminat hingga menyisakan ribuan kursi kosong.
Pendaftaran Sekolah Maung telah ditutup pada 29 Mei 2026. Saat ini proses verifikasi dan validasi dokumen berlangsung hingga 2 Juni 2026 sebelum hasil seleksi diumumkan pada 8 Juni mendatang.
Awalnya terdapat 41 SMA dan SMK Negeri yang direncanakan menjadi bagian dari Sekolah Maung. Namun belakangan, SMK Negeri Manusia Unggul Purwakarta tidak jadi dilibatkan sehingga jumlah peserta berkurang menjadi 40 sekolah, terdiri dari 28 SMA Negeri dan 12 SMK Negeri.
Dikutip dari blogspot Bilqis Haura Consultant, secara total, jumlah pendaftar pada jenjang SMK Negeri sebenarnya cukup menjanjikan. Dari daya tampung sebanyak 7.872 kursi, tercatat ada 13.628 pendaftar. Artinya tingkat persaingan mencapai hampir dua kali lipat dari kuota yang tersedia.
Namun jika ditelusuri lebih dalam berdasarkan jalur seleksi, muncul fenomena yang cukup mengejutkan.
Jalur Prestasi Akademik dan Kejuaraan Kurang Diminati
Jalur Potensi Akademik menjadi salah satu jalur yang paling sepi peminat. Dari kuota 791 kursi yang tersedia, hanya ada 23 pendaftar atau sekitar 2,9 persen.
Artinya sebanyak 768 kursi atau 97,1 persen kuota tidak terisi pelamar.
Fenomena serupa terjadi pada Jalur Kompetensi Akademik Kejuaraan. Jalur yang diperuntukkan bagi siswa berprestasi ini menyediakan 1.580 kursi, tetapi hanya dilamar oleh 31 calon murid baru atau sekitar 1,96 persen dari kuota yang tersedia.
Akibatnya terdapat 1.549 kursi kosong atau setara dengan 98,04 persen dari daya tampung.
Bahkan pada Jalur Kompetensi Non Akademik yang biasanya menjadi pilihan siswa berprestasi di bidang olahraga, seni, organisasi maupun kegiatan lainnya, jumlah pendaftar juga belum memenuhi target. Dari 1.580 kursi yang disediakan, hanya 943 orang yang mendaftar atau sekitar 59,68 persen.
Sebanyak 637 kursi masih belum terisi pelamar.
Nilai Rapor Jadi Primadona
Di tengah sepinya peminat jalur prestasi dan kejuaraan, kondisi berbanding terbalik terjadi pada Jalur Kompetensi Akademik Rapor.
Jalur ini hanya mengandalkan akumulasi nilai rapor Semester 1 hingga Semester 5 saat siswa berada di kelas 7, 8 dan 9 SMP atau MTs sederajat.
Ternyata jalur tersebut menjadi magnet utama calon peserta didik.
Dari kuota 3.936 kursi yang tersedia, jumlah pendaftar mencapai 12.631 orang atau setara dengan 328,53 persen dari daya tampung.
Artinya terdapat kelebihan pendaftar sebanyak 8.695 orang yang harus bersaing memperebutkan kursi terbatas.
Data ini menunjukkan bahwa mayoritas calon siswa dan orang tua masih menempatkan nilai akademik rapor sebagai instrumen paling aman dan paling realistis untuk menembus sekolah unggulan.
Mengapa Jalur Prestasi Sepi?
Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan fenomena ini.
Pertama, jumlah siswa yang memiliki sertifikat kejuaraan atau prestasi formal memang tidak sebanyak yang diperkirakan.
Kedua, banyak siswa berprestasi memilih tetap mendaftar melalui jalur rapor karena dianggap memiliki peluang lebih besar dan mekanisme yang lebih sederhana.
Ketiga, sosialisasi terkait jalur prestasi dan kejuaraan kemungkinan belum menjangkau seluruh calon peserta didik secara optimal.
Keempat, adanya kekhawatiran dokumen prestasi tidak lolos verifikasi sehingga siswa memilih jalur yang dianggap lebih pasti.
Evaluasi Penting bagi Pemprov Jabar
Fenomena ribuan kursi kosong pada jalur prestasi menjadi catatan penting bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Di satu sisi, Sekolah Maung berhasil menarik minat masyarakat dengan jumlah pendaftar yang tinggi. Namun di sisi lain, desain jalur penerimaan ternyata belum mampu mendistribusikan minat pendaftar secara merata.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah siswa Jawa Barat memang lebih percaya pada nilai rapor dibandingkan prestasi kejuaraan, atau justru sistem seleksi yang ada belum mampu memberikan daya tarik yang cukup bagi para siswa berprestasi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting menjelang pelaksanaan Sekolah Maung pada tahun-tahun berikutnya.
Yang pasti, data pendaftaran tahun pertama ini menunjukkan satu fakta yang sulit dibantah: di Sekolah Maung, nilai rapor masih menjadi "raja", sementara jalur prestasi justru belum menjadi pilihan utama para calon siswa.(*)



