306 Ribu Keluarga Subang Masuk Desil 1-4, Alarm Kemiskinan Menyala

Redaktur author photo
Foto: kondisi salah satu rumah warga Subang tidak layak huni

inijabar.com, Subang – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Subang mengungkap data terbaru pemeringkatan Data Terpadu Sentra Kesejahteraan Sosial (DTSEN) yang menjadi acuan penyaluran berbagai program perlindungan sosial. Data tersebut menunjukkan masih besarnya jumlah keluarga yang masuk kategori miskin hingga rentan miskin di Kabupaten Subang.

Berdasarkan data Dinsos Subang, terdapat 84.032 keluarga yang masuk Desil 1 atau kategori miskin ekstrem. Sementara Desil 2 tercatat sebanyak 76.807 keluarga, Desil 3 sebanyak 72.947 keluarga, dan Desil 4 mencapai 73.758 keluarga.

Jika diakumulasikan, terdapat 307.544 keluarga yang berada pada kelompok Desil 1 hingga Desil 4, atau kelompok yang menjadi prioritas penanganan kesejahteraan sosial oleh pemerintah.

Dalam sistem DTSEN, Desil 1 merupakan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah atau miskin ekstrem. Desil 2 masuk kategori miskin, sedangkan Desil 3 merupakan kelompok rentan miskin yang berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan apabila mengalami tekanan ekonomi. Adapun Desil 4 merupakan kelompok hampir rentan miskin yang masih membutuhkan perhatian agar tidak mengalami penurunan kesejahteraan.

Analisis: Kemiskinan Tak Hanya Soal Desil 1

Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangan Kabupaten Subang bukan hanya mengurangi jumlah keluarga miskin ekstrem pada Desil 1, tetapi juga menjaga agar ratusan ribu keluarga di Desil 2, 3, dan 4 tidak semakin terpuruk.

Jumlah keluarga pada Desil 2 hingga Desil 4 bahkan relatif berimbang, berkisar antara 72 ribu hingga 76 ribu keluarga. Kondisi ini menunjukkan adanya kelompok masyarakat yang berada di "zona rawan", yakni belum tergolong miskin ekstrem, namun sangat rentan terdampak gejolak ekonomi seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, PHK, maupun gagal panen.

Karena itu, strategi pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sosial. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan UMKM, peningkatan keterampilan tenaga kerja, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga penguatan ekonomi desa.

Apabila intervensi dilakukan secara tepat sasaran berdasarkan data DTSEN, maka peluang keluarga untuk naik ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik akan semakin besar. Sebaliknya, tanpa kebijakan yang berkelanjutan, kelompok rentan miskin berisiko bergeser menjadi miskin bahkan miskin ekstrem.

Data ini menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan di Kabupaten Subang masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar angka kemiskinan dapat ditekan secara berkelanjutan.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini