Meringankan Beban Korban Gempa NTT, Mahasiswa STIK Polri Salurkan Bantuan

Redaktur author photo
Momen saat mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 saat mendistribusikan bantuan.

inijabar.com, Jakarta - Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menyisakan kebutuhan logistik mendesak bagi ratusan ribu pengungsi.

Guna meringankan beban warga terdampak, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan 16, menyalurkan bantuan sembako sekaligus menggelar layanan trauma healing, pada Sabtu (29/8/2026) lalu.

Penyaluran logistik tersebut didistribusikan langsung ke posko pengungsian di Dusun Wairhabi, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, serta dikirim via Pelabuhan Lorens Say menuju wilayah Pelabuhan Palue.

Perwira Pendamping Mahasiswa S2 STIK Angkatan 16, Kombes Pol. Didit Bambang Wibowo, menjelaskan bahwa aksi sosial ini didasari atas rasa empati serta tanggung jawab moral kepolisian, untuk membantu masyarakat di daerah bencana.

"Kami ingin mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan setelah bencana gempa mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya," kata Kombes Pol Didit melalui keterangan tertulis, Senin (31/8/2026).

Didit menambahkan, selain menyerahkan bantuan sembako seperti beras, minyak goreng, dan susu bubuk, para mahasiswa juga memprioritaskan pendampingan pemulihan psikologis bagi para korban.

"Kehadiran kami diharapkan dapat memberikan penguatan moral, agar warga penyintas tidak merasa berjuang sendirian di masa-masa sulit ini," tutur Didit.

Paket bantuan di Dusun Wairhabi diserahterimakan secara simbolis kepada pengelola posko pengungsian lokal, yang menampung 159 kepala keluarga dari tiga wilayah terdampak.

Koordinator Posko Pengungsian Dusun Wairhabi, Agustinus Nong Viles, menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan kepedulian jajaran kepolisian di lokasi penampungan.

"Bantuan sembako dan kehadiran tim ini sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan harian 159 kepala keluarga yang mengungsi di posko kami," ujar Agustinus di lokasi pengungsian.

Agustinus menyebutkan bahwa pascabencana, akses warga untuk memperoleh stok kebutuhan harian dan fasilitas kesehatan dasar sempat terhambat, akibat terbatasnya sarana logistik.

"Warga di sini sangat terbantu karena akses kebutuhan pokok sempat sulit didapatkan pascabencana," tambah Agustinus.

Selain penyaluran bahan pangan, jajaran mahasiswa STIK Polri bersama personel Polda NTT dan Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, mendirikan posko kesehatan gratis untuk memeriksa kondisi para pengungsi.

"Sinergi bersama mahasiswa STIK Polri ini, akan kami lanjutkan dengan memprioritaskan penyaluran bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau transportasi darat," kata Bambang.

Berdasarkan pembaruan data BNPB, bencana gempa dangkal yang berpusat di laut timur laut Nagekeo tersebut, telah mengakibatkan 111 orang meninggal dunia dan memaksa lebih dari 299.000 warga mengungsi di tujuh kabupaten.

Aksi kemanusiaan ini diharapkan, dapat memicu penguatan kepedulian dari berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan fisik, mental, serta ekonomi warga Flores secara berkelanjutan. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini