![]() |
| Ilustrasi |
inijabar.com, Kota Bekasi – Laporan Keuangan PT Mitra Patriot (Perseroda) Tahun Buku 2025 memunculkan sejumlah catatan penting yang layak menjadi perhatian publik. Meski memperoleh tambahan modal dari Pemerintah Kota Bekasi, perusahaan daerah ini masih membukukan kerugian dan memiliki aktivitas usaha yang relatif terbatas.
Berdasarkan dokumen laporan keuangan yang telah diaudit Kantor Akuntan Publik Indra Wiguna Marthanu CPA, berikut beberapa sorotan utama.
1. Kerugian Berhasil Dipangkas, Tetapi Tetap Minus
PT Mitra Patriot mencatat pendapatan tahun 2025 sekitar Rp1,52 miliar. Namun, beban usaha mencapai sekitar Rp2,19 miliar sehingga perusahaan masih mengalami rugi bersih sekitar Rp1,62 miliar.
Meski demikian, angka ini lebih baik dibandingkan tahun 2024 yang mencatat rugi sekitar Rp3,31 miliar. Artinya terdapat penurunan kerugian hampir 50 persen.
Dari sisi efisiensi, perbaikan mulai terlihat, namun perusahaan masih belum mampu menghasilkan laba.
2. Pendapatan Masih Belum Menutup Beban Operasional
Laporan menunjukkan laba kotor masih positif, tetapi beban operasional menggerus seluruh keuntungan tersebut.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tantangan utama PT Mitra Patriot bukan semata meningkatkan omzet, melainkan bagaimana mengendalikan biaya operasional dan menciptakan unit usaha yang benar-benar menghasilkan keuntungan.
3. Ekuitas Naik karena Suntikan Modal
Di tengah kerugian yang masih terjadi, ekuitas perusahaan justru meningkat.
Hal ini dipicu adanya penambahan modal disetor tunai sebesar Rp5 miliar pada tahun 2025, sehingga total ekuitas naik menjadi sekitar Rp7,73 miliar.
Artinya, kondisi permodalan perusahaan lebih banyak ditopang oleh investasi pemerintah dibandingkan hasil usaha.
4. Total Aset Meningkat
Total aset PT Mitra Patriot per 31 Desember 2025 tercatat sekitar Rp9,01 miliar, meningkat dibanding tahun sebelumnya sekitar Rp6,29 miliar.
Kenaikan aset tersebut terutama berasal dari bertambahnya kas dan penambahan aset tetap.
5. Kas Melonjak Signifikan
Saldo kas perusahaan meningkat dari sekitar Rp26 juta menjadi lebih dari Rp4,13 miliar.
Lonjakan tersebut erat kaitannya dengan tambahan penyertaan modal dari Pemerintah Kota Bekasi.
6. Aktivitas Usaha Masih Terbatas
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan disebutkan bahwa saat ini perusahaan belum menjalankan aktivitas usaha secara optimal dan masih melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang dimiliki.
Catatan tersebut menjadi sinyal bahwa optimalisasi bisnis masih menjadi pekerjaan rumah utama manajemen.
7. Auditor Memberikan Opini Wajar Tanpa Modifikasi
Meski perusahaan masih merugi, auditor memberikan opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTP).
Perlu dipahami, opini WTP bukan berarti perusahaan untung, melainkan menunjukkan bahwa laporan keuangan dinilai telah disajikan secara wajar sesuai standar akuntansi yang berlaku.
Catatan Kritis
Dari laporan keuangan tersebut, terdapat beberapa pertanyaan yang layak menjadi perhatian publik dan pemegang saham, yakni Pemerintah Kota Bekasi:
Mengapa perusahaan masih merugi meski telah memperoleh tambahan modal?
Seberapa efektif penyertaan modal daerah dalam menghasilkan dividen bagi kas daerah?
Apa strategi bisnis PT Mitra Patriot agar tidak terus bergantung pada suntikan modal pemerintah?
Kapan Perseroda ini mampu memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)?
Ke depan, ukuran keberhasilan PT Mitra Patriot bukan hanya terlihat dari bertambahnya aset atau modal, tetapi dari kemampuannya mencetak laba, memperkuat tata kelola perusahaan, serta memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi Pemerintah Kota Bekasi sebagai pemegang saham.(*)



