inijabar.com, Subang- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengimbau seluruh kepala sekolah di wilayah yang terdampak abu vulkanik akibat erupsi Anak Gunung Krakatau untuk menerapkan pembelajaran secara daring mulai Senin, 7 September 2026.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi demi menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik serta tenaga pendidik, menyusul meningkatnya intensitas sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi menyebut daerah dengan paparan abu vulkanik tinggi, seperti Bogor dan Sukabumi, diminta segera mengambil langkah sesuai kondisi di lapangan.
"Sehubungan dengan semakin meningkatnya intensitas sebaran abu vulkanik dari erupsi Anak Gunung Krakatau, kami sampaikan untuk wilayah-wilayah yang intensitasnya tinggi seperti Bogor dan Sukabumi serta daerah lain yang intensitasnya tinggi, para kepala sekolah terhitung mulai Senin, 7 September 2026, bisa mengambil keputusan untuk membuat sistem pembelajaran secara daring di rumahnya masing-masing," ujar Dedi Mulyadi.
Imbauan tersebut memberikan kewenangan kepada kepala sekolah untuk menyesuaikan sistem pembelajaran berdasarkan tingkat sebaran abu vulkanik di wilayah masing-masing.
Langkah pembelajaran daring dinilai sebagai upaya meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik yang dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, hingga menurunkan kualitas udara.
Selain meminta sekolah beralih ke sistem daring di wilayah terdampak, masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara dipenuhi abu vulkanik. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah menjadi salah satu langkah pencegahan yang disarankan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus memantau perkembangan erupsi Anak Gunung Krakatau bersama instansi terkait. Apabila kondisi sebaran abu vulkanik berubah, kebijakan pembelajaran di sekolah akan disesuaikan dengan perkembangan terbaru.
Keputusan ini menjadi bentuk respons cepat pemerintah daerah untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek keselamatan warga sekolah di tengah dampak erupsi Anak Gunung Krakatau.



