Pelaku UMKM Bekasi: Lah, Lapak Juga Diembat, Bu Ratu Jangan Mentang-mentang Lagi Berkuasa

Redaktur author photo


inijabar.com, Kota Bekasi – "Kalau dagangan mah silakan bersaing. Tapi kalau lapaknya ikut diambil, pedagang cuma bisa garuk-garuk kepala."

Begitulah kira-kira nada satire yang disampaikan pelaku UMKM Cluster Mamin (Makanan dan Minuman) Kota Bekasi, Afif Ridwan, saat menyoroti pengelolaan sejumlah bazar UMKM di Kota Bekasi.

Menurut Afif, komunitas UMKM Mamin sudah merintis bazar di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Bekasi sejak awal penyelenggaraan CFD sekitar tahun 2011. Saat itu, kata dia, semua dilakukan dengan semangat gotong royong.

"Awalnya ada anggota yang punya tenda, meja, kursi sampai taplak, dipinjamkan buat dipakai bersama. Peserta cuma patungan buat ongkos angkut dan kebersihan," ujar Afif.

Lama-kelamaan, peralatan bazar dibeli secara patungan hingga menjadi aset bersama komunitas. Sampai sekarang, para pedagang tetap membayar iuran sekitar Rp50 ribu setiap kali berjualan, yang digunakan untuk biaya angkut perlengkapan dan kebersihan.

Beda Sama Bazar Selasa Ceria

Afif kemudian membandingkan dengan Bazar Selasa Ceria yang kini dikelola Dekranasda Kota Bekasi.

Menurutnya, meski sama-sama menarik iuran sekitar Rp50 ribu, fasilitas yang diterima pedagang berbeda jauh.

Di CFD, pedagang cukup membawa produk dagangan karena tenda, meja, dan kursi sudah tersedia.

Sementara di Bazar Selasa Ceria, pedagang disebut masih harus membawa sendiri perlengkapan berjualannya.

"Bayarnya sama, tapi yang satu tinggal buka lapak, yang satu lagi serasa pindahan rumah tiap mau jualan," sindirnya.

Ia juga menilai potensi pembeli di CFD jauh lebih besar karena didatangi masyarakat dari berbagai wilayah, bukan hanya pegawai di lingkungan Pemkot Bekasi.

'Bikin Lapak Baru Dong, Jangan Ambil yang Sudah Jadi'

Afif berharap Dekranasda Kota Bekasi lebih fokus menciptakan kantong-kantong pemasaran baru bagi UMKM dibanding mengambil alih lokasi yang telah dirintis komunitas.

Ia mencontohkan keberhasilan komunitas UMKM membangun pasar sendiri di CFD selama lebih dari satu dekade.

Menurutnya, Dekranasda Kota Bekasi juga bisa meniru langkah Koperasi Savira yang menggagas bazar rutin di kawasan CFD Vida dengan menggandeng berbagai pelaku usaha.

"Kalau bikin tempat baru itu keren. Menantang. Berkelas. Bukan datang pas lapaknya sudah ramai, terus papan namanya diganti," ucapnya dengan nada satir.

Afif bahkan menyebut langkah tersebut terkesan menggunakan "bahasa kekuasaan" karena dilakukan saat memiliki kewenangan.

"Bu Ratu jangan mentang-mentang lagi berkuasa dong,"sindirnya.

Loby Corner Ikut Disorot

Sorotan Afif tak berhenti di bazar. Ia juga mengaku menerima keluhan dari anggota UMKM terkait pengelolaan Loby Corner di Gedung Pemerintah Kota Bekasi yang kini disebut dikelola Dekranasda.

Menurut cerita yang diterimanya, pelaku UMKM dikenakan biaya sekitar Rp70 ribu per bulan untuk menitipkan produk.

Namun hasil penjualannya dinilai belum sebanding.

"Ada anggota saya sebulan cuma laku tiga bungkus. Satu bungkus Rp40 ribu. Total omzet Rp120 ribu. Dipotong biaya Rp70 ribu, tinggal Rp50 ribu. Untung kagak, boncos iya," katanya.

Satire Buat Pembinaan UMKM

Afif menegaskan kritiknya bukan untuk mempersoalkan keberadaan Dekranasda, melainkan sebagai masukan agar pembinaan UMKM lebih berorientasi pada pembukaan pasar baru.

Menurutnya, UMKM membutuhkan lebih banyak ruang pemasaran yang produktif dibanding sekadar berpindah pengelola.

"Kalau bisa bikin sepuluh kantong pemasaran baru, itu baru tepuk tangan. UMKM pasti senang. Jangan sampai yang berubah cuma papan nama pengelolanya, sementara pedagang tetap pusing menghitung modal," pungkasnya.

Share:
Komentar

Berita Terkini