|
Menu Close Menu

Dua Kali Jokowi Tumbang di Banten, Timses Salahkan Maruf Amin

Sabtu, 20 April 2019 | 11.38 WIB

inijabar.com, Banten- Kekalahan Jokowi-Maruf Amin di Provinsi Banten untuk yang kedua kali nya setelah sebelumnya pada Pilpres 2014 saat Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla dan Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa.

Kekalahan di provinsi kelaahiranya Maruf Amin ini menuai banyak pertanyaan di internal tin kampanye daerah (TKD) paslon nomor urut 01 itu. Kinerja Tim Jokowi-Maruf Amin di Banten dipersoalkan. Pasalnya, Jokowi dua kali kalah dalam helatan Pilpres 2019 dengan rival yang sama di Pilpres 2014.

Bahkan, raihan suara Jokowi-Ma'ruf pada Pemilu 2019, turun dibandingkan 2014 lalu 

"Seharusnya TKD lebih militan dalam memperjuangkan  Jokowi-Kai Ma’ruf, bukan relawan yang jauh lebih militan," kata Leo Agustino, Pengamat politik dari Untirta Banten, Sabtu, (20/ 4/2019).

Militansi dan soliditas relawan, kata Leo, jauh lebih unggul dibandingkan parpol, yang memiliki modal finansial lebih mapan.

"Selain itu, saya menilai TKD kurang berhasil bekerja sebagai tim yang solid," terangnya. 

Leo menyebut meski Jokowi berkali-kali datang ke Banten, namun tidak memberikan efek positif dalam raihan suara pilpres. 

Begitpun para caleg partai koalisi pada saat awal kampanye tidak berani memasang foto bersama Jokowi-Ma'ruf Amien. Mereka khawatir dengan isu negatif yang melekat pada Jokowi berpotensi menggerus suara para caleg.

"Celakanya isu itu kurang mendapat perhatian TKD, sehingga minim counter terhadap isu-isu miring," jelasnya.

Sebelumnya Ketua TKD Banten Asep Rahmatullah mengakui kekalahan Jokowi-Ma'ruf Amin atas Prabowo-Sandi di Banten. Ia sedang menganalisis penyebab kekalahan dan faktor Ma'ruf Amin yang tak sanggup mendongkrak suara Jokowi Banten. Padahal, Ma'ruf Amin  asli Banten.

"Bayangkan saja, pengaruh Kiai Ma'ruf Amien saja tidak bisa mengubah posisi itu. Dan ini biasanya di kalangan macam apa ya," ujarnya. 

Politikus PDIP ini lantas mengkambinghitamkan warga Bumi Jawara itu yang dinilainya memiliki pola pikir dan kejiwaan berbeda dalam menentukan pilihan capres dan cawapres.(*)
Bagikan:

Komentar

<---PASNG IKLAN--->
<---PASANG IKLAN--->