|
Menu Close Menu

Gubernur Jabar Sebut Pentingnya Revitalisasi Kurikulum SMK

Rabu, 23 Oktober 2019 | 11.27 WIB

inijabar.com, Bandung- Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mendorong lahirnya revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar bisa menghasilkan lulusan yang produktif, baik untuk bekerja di sektor formal maupun wiraswasta.

Hal itu diungkapkan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Selain itu, sambung dia, guna meningkatkan keterserapan lulusan SMK di dunia kerja dengan mengutamakan adanya link and match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

SMK harus meluluskan tenaga kerja terampil yang siap kerja di berbagai sektor industri sesuai kebutuhan di era Revolusi Industri 4.0.

Terkait revitalisasi,  Ridwan Kamil memaparkan tiga model yang menjadi opsi revitalisasi SMK di Jabar. Model pertama, yakni membangun fisik dan fasilitas sekolah oleh pemerintah dengan kurikulum yang dibuat langsung oleh industri.

"Jadi nanti ada kurikulum Samsung, Hyundai, Astra, dan lain- lain, yang penting mereka yang dilatih bisa sesuai dengan kemajuan teknologi yang dipakai di industri," tutur pria yang akrab disapa kang Emil ini.  saat menghadiri Seminar Revitalisasi SMK di Kota Bandung, Selasa (22/10/2019).

Model pertama itu, kata dia, menciptakan kesinambungan dan keselarasan antara materi yang diajarkan di sekolah vokasi atau SMK dan industri.

Model kedua, yakni merancang kampung ilmu multifungsi. Dengan sistem ini, akan diintegrasikan model pendidikan formal dan informal yang dilakukan secara intensif, termasuk menggali potensi lokal. Sehingga, siswa akan terlatih untuk mampu melakukan inovasi secara mandiri.

Untuk model kedua ini, Emil berujar akan mencontoh model Kampung Ilmu yang sudah terlebih dulu digagas sosiolog sekaligus Ketua Pengurus Yayasan Nurani Dunia Imam Prasodjo di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta Jawa Barat.

Di sana, Kampung Ilmu berawal dari pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Tegalwaru yang kemudian dirancang terintegrasi dengan pusat-pusat pembelajaran komunitas informal di sekitarnya.

Model ketiga, yakni teaching factory, sebuah konsep pembelajaran yang menghadirkan kondisi rill seperti aktivitas produksi di industri. Model ini diberlakukan untuk menjembatani kesenjangan kompetensi antara pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan industri.

Dengan proses pembelajaran teaching factory, siswa dapat belajar dan menguasai keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar kerja industri sesungguhnya.

Tak hanya itu, produk-produk yang dibuat para siswa sebagai proses belajar pun bisa dipasarkan ke masyarakat karena sudah sesuai dengan standar industri. Merujuk peraturan Menteri Keuangan, Emil berujar pihak industri yang menyediakan ruang atau fasilitas untuk model pendidikan teaching factory akan mendapat potongan pajak.

Selain itu, Pemprov Jabar juga akan mendorong jurusan yang menjadi tren seperti jurusan kopi atau animasi, fokus kepada praktik, serta mendorong fleksibilitas sekolah dalam menyusun kurikulum bersama DUDI.(*)
Bagikan:

Komentar

<---PASNG IKLAN--->
<---PASANG IKLAN--->