|
Menu Close Menu

Mispersepsi Milenial Terhadap Depresi 

Kamis, 16 Januari 2020 | 22.03 WIB

DEPRESI di kalangan milenial bukanlah suatu hal yang tabu. Namun, kebanyakan dari mereka masih sering salah mengartikan kata 'depresi' yang sebenarnya.

Mungkin anda pernah mendengar beberapa kalimat berikut;
“Aduh! Depresi nih gue gara-gara tugas banyak banget.”
“Macet banget parah sampe depresi gue nunggunya.”
“Eh kayaknya gue depresi deh.”
“Bos gue ribet deh. Bikin kita semua pada depresi.”
“Ini client maunya apa sih? Bikin depresi aja, huh!”

Dari beberapa kalimat di atas dapat disimpulkan bahwa banyak milenial yang dengan mudahnya menyebut dirinya adalah seseorang yang mengidap depresi hanya karena sedang menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari yang kurang relevan dengan penyebab depresi yang sebenarnya. 

Mungkin mereka tidak tahu bahwa penyakit mental hanya bisa terdiagnosa setelah melakukan beberapa pemeriksaan dan tes yang diberikan oleh psikolog.

Sebenarnya, apa itu depresi?.

Berdasarkan beberapa definisi dari para ahli, penulis menyimpulkan bahwa depresi adalah suatu keadaan emosional dimana seseorang merasa sedih yang sangat mendalam dan dapat mempengaruhi suasana hati, pikiran, tindakan, dan kesehatan karena mereka tidak bisa keluar dari rasa kesedihan tersebut.

Depresi merupakan penyakit mental yang sangat serius dan bukan untuk digunakan sebagai candaan.

Bila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kurangnya produktivitas penderita hingga kematian baik secara sengaja maupun tidak disengaja.

Hal-hal tersebut menunjukan bahwa membagikan informasi tentang kesehatan mental, khususnya depresi sangat diperlukan supaya kita lebih peduli terhadap jiwa kita sendiri dan juga orang lain.

Melihat fenomena ini, seharusnya milenial lebih mendalami informasi tentang kesehatan mental, khususnya depresi. Supaya tidak ada lagi yang namanya mispersepsi tentang makna depresi yang sebenarnya dan jika merasa kesehatan mentalnya mulai terganggu lebih baik langsung konsultasi ke psikolog dan tidak boleh self-diagnose.

Penulis : 
Sekar Fajri Fadillah, 
Mahasiswi London School of Public Relations – Jakarta
Bagikan:

Komentar

<---PASNG IKLAN--->
<---PASANG IKLAN--->