Kabupaten Cirebon Jadi Yang Pertama Terapkan Pengobatan Terapi Plasma Bagi Pasien Covid 19 di Ciayumajakuning inijabar.com
|
Menu Close Menu

Kabupaten Cirebon Jadi Yang Pertama Terapkan Pengobatan Terapi Plasma Bagi Pasien Covid 19 di Ciayumajakuning

Sabtu, 19 September 2020 | 20.14 WIB

inijabar.com, Kabupaten Cirebon- Kabupaten Cirebon menjadi kabupaten pertama di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning), yang menerapkan pengobatan terapi plasma, untuk pasien terkonfirmasi positif covid 19.


Bupati Cirebon, H. Imron menyatakan, saat ini terapi plasma sedang diberikan kepada dua pasien terkonfirmasi positif covid 19 di RSUD Waled Kabupaten Cirebon.


Terapi plasma merupakan terapi dengan cara transfusi, dengan menggunakan plasma darah dari pasien yang pernah terkonfirmasi positif covid 19 dan sudah sembuh. adanya transfusi plasma ini, diharapkan nantinya, anti body dari pasien bisa lebih meningkat dan bisa melawan virus covid 19.


"Di Rumah Sakit Waled saat ini sudah menggunakan terapi plasma,” kata Imron.


Selain masalah pengobatan, Pemkab Cirebon juga melakukan langkah lainnya dalam penanggulangan wabah covid-19. Diantaranya, melakukan uji swab kepada puluhan ribu warga. Langkah tersebut untuk mempercepat pemetaan dan penanganan covid 19 di Kabupaten Cirebon. 


"Kami sudah bagikan sekitar 2,5 juta masker untuk masyarakat,” kata Imron.


Ketua IDI Kabupaten Cirebon, dr Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein mengatakan, untuk di wilayah 3 Cirebon, terapi plasma baru dilakukan di RSUD Waled Kabupaten Cirebon. Pihaknya memberikan terapi kepada dua pasien, yang terkonfirmasi positif covid 19 dalam skala berat dan sedang.


Dalam terapi plasma ini, memang tidak diberikan kepada warga yang terkonfirmasi positif, namun tanpa gejala. Dalam prakteknya, pasien yang terkonfirmasi positif, akan mendapatkan transfusi plasma sebanyak 400 cc. Jumlah tersebut akan ditransfusikan dua kali dalam waktu yang berbeda.


"Jadi nantinya, transfusi dilakukan dua kali dengan ukuran 200 cc,”ucap Fariz.


Di Kabupaten Cirebon ujar Fariz, pengobatan covid 19 menggunakan dua cara, yaitu Imunoterapi dan terapi plasma. Untuk pengobatan imunoterapi, sudah dilaksanakan juga di Rumah Sakit Mitra Plumbon. Namun menurut Fariz, kendala pada Imunoterapi adalah ketersediaan obatnya.


Untuk saat ini, obat yang digunakan untuk Imunoterapi, sangat sulit didapatkan. Kelangkaan obat imunoterapi ini, bukan hanya terjadi di Cirebon saja, namun juga terjadi disejumlah wilayah di Indonesia. Sehingga menurut Fariz, adanya terapi plasma ini, bisa menjadi solusi atas kelangkaan obat imunoterapi.


Imunoterapi sendiri, merupakan pengobatan dengan menggunakan obat yang dicampurkan dalam infus. Nantinya, obat tersebut akan dialirkan melalui pembuluh darah. Dalam pengobatan Imunoterapi, pasien hanya akan mendapatkan pengobatan tersebut sekali dalam setiap masa pengobatan.


Kalau terapi plasma dilakukan dua kali, kalau imunoterapi hanya satu kali,” kata Fariz.


Fariz juga mengatakan, pengobatan dengan menggunakan terapi plasma, lebih ekonomis dibandingkan dengan menggunakan imunoterapi. Selain itu, masa evaluasi dalam pengobatan terapi plasma, juga lebih cepat dibandingkan pengobatan yang diberikan dengan cara Imunoterapi.


Untuk dua pasien di RSUD Waled sendiri, pihaknya baru memberikan terapi plasma pada Rabu dan Jumat kemarin. Dalam waktu dekat ini, tim medis akan melakukan evaluasi, terkait perkembangan pengobatan dengan cara menggunakan terapi plasma.


Fariz mengungkapkan, Terapi Plasma saat ini sudah mulai banyak dilakukan oleh sejumlah rumah sakit di Indonesia, untuk digunakan sebagai pengobatan covid 19. salah satu rumah sakt yang menggunakan terapi plasma, yaitu RSPAD Gatot Subroto.


Terkait hasil yang didapatkan dari terapi plasma ini, memang masih bervariasi. Namun menurut Fariz, dari sekian banyak rumah sakit yang mulai menggunakan metode ini, lebih banyak mendapatkan keberhasilan dengan pengobatan tersebut.


"Keberhasilan pengobatan dengan terapi plasma ini cukup banyak. Apalagi, ini bukan sekadar spekulasi, tapi memang sesuai dengan ilmu kedokteran dan medis,” ujar Fariz.(fii)

Bagikan:

Komentar