Kisah Jenaka Ketua RW Usai Diperiksa Inspektorat: Serasa Ikut Audisi Dangdut Academy Tanpa Konsumsi

Redaktur author photo
Para pengurus RW dari tiga kecamatan di Kota Bekasi mulai diperiksa Inspektorat terkait program Rp100 juta per RW per tahun

Inijabar.com, Kota Bekasi – Ini cerita lucu dari salah satu ketua RW di salah satu kelurahan yang mendapat undangan Inspektorat Kota Bekasi untuk dilakukan pemeriksaan dari program bantuan Rp100 juta Keren.

Namun karena faktor tidak mau populer maka dia tidak bekenan ditulis namanya. Dari curhatan WA yang dikirim, maka jadilah sebuah cerita jenaka.

Hari ini Senin (19/1/2026) merupakan hari pertama jadwal pemeriksaan RW dari tiga kecamatan. Ada kurang lebih 345 RW yang hadir dan mengantri seperti akan mengikuti audisi Dangdut Academy.

Berikut ceritanya,

Pagi itu saya berangkat dari rumah dengan niat mulia: mempertanggungjawabkan dana RW Bekasi Keren 2025. Di tas ada map tebal berisi kuitansi, foto kegiatan, laporan belanja barang, dan harapan kecil: pulang sore, makan malam di rumah.

Ternyata harapan tinggal harapan.

Begitu sampai Balai Patriot Pemkot Bekasi, saya sadar ini bukan sekadar evaluasi. Ini uji ketahanan mental. Kami, para Ketua RW, duduk rapi seperti peserta ujian CPNS bedanya, yang diuji bukan logika, tapi kesabaran dan ketahanan lambung.

Jam menunjukkan pukul 14.00. Jadwal saya katanya sesi siang. Nyatanya, saya baru dipanggil ketika azan Isya sudah berkumandang. Itu pun belum tentu terakhir.

“Pak RW, sebentar ya, masih klarifikasi RW sebelumnya,” kata petugas dengan senyum tipis, senyum orang yang juga ingin cepat pulang.

Saya mengangguk. RW harus santun. Walau perut sudah berdemo, tenggorokan mulai kering, dan pikiran bertanya-tanya: ini evaluasi atau simulasi tahanan?

20 Menit yang Terasa Seperti Sidang Tipikor

Akhirnya tibalah giliran saya Masuk. Duduk. Mulai.

“Ini kenapa beli laptop merk ini, bukan yang itu?”

“Kenapa banner kegiatannya ukurannya segini?”

“Kenapa foto sebelum dan sesudahnya beda sudut?”

Saya jawab satu-satu dengan nada patuh. Dalam hati saya berpikir, kalau begini detailnya, mending sekalian tanya golongan darah saya.

Waktu berjalan. 20 menit. 30 menit. Saya mulai curiga, jangan-jangan saya sedang ikut audisi Indonesia’s Got Talang Air.

Air Putih: Barang Mewah Malam Itu

Di luar ruangan, saya melihat teman-teman RW lain mulai gelisah. Ada yang lansia, ada yang duduk sambil memijat lutut. Semua punya satu kesamaan: tidak ada yang pegang air minum.

Kantin? Tutup.

Snack? Nihil.

Air mineral? Seperti bantuan luar negeri yang diharapkan, tapi tak kunjung datang.

Seorang RW berbisik,

“Pak, ini kalau kita pingsan, masuk temuan juga enggak?”

Kami tertawa kecil. Tertawa orang-orang yang sudah pasrah.

Dari Pembangunan Lingkungan ke Pembangunan Trauma

Padahal dulu, waktu program RW Bekasi Keren diumumkan, kami semangat. Rp100 juta untuk lingkungan. Bank sampah, beli laptop, CCTV, seragam posyandu dan kerudung ibu-ibu majelis taklim. Kami pikir pemerintah percaya pada RW.

Malam itu, kepercayaan itu diuji.

Kami bukan ASN. Kami bukan pegawai proyek. Kami relawan. Siang kerja cari nafkah, malam ngurus warga. Tapi malam itu, rasanya seperti tersangka kehormatan yang harus menjelaskan setiap kwitansi dan bon.

“Kalau begini lagi tahun depan,” kata seorang RW sambil berdiri lesu,

“saya mending fokus ngurus arisan ibu-ibu. Lebih manusiawi.”

Catatan Kecil dari RW Kecil

Saya pulang hampir jam 10 malam. Lelah. Haus. Tapi satu hal jelas:

Evaluasi penting. Transparansi wajib. Tapi kemanusiaan jangan ditinggal di parkiran Balai Patriot Pemkot Bekasi.

Kalau niatnya membangun dari bawah, jangan buat yang di bawah merasa paling bersalah.

Kalau niatnya mengawasi, jangan sampai yang diawasi pulang membawa trauma.

Besok, saya tetap akan ngurus warga.

Tapi untuk urusan evaluasi seperti ini, mohon, lain kali jangan lupa: air putih juga bagian dari tata kelola yang baik.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini