![]() |
| Sumardji |
DI mata FIFA, Sumardji kini hanya tercatat sebagai subjek pelanggaran disiplin. Sanksinya dingin dan tegas: larangan mendampingi Timnas Indonesia selama 20 pertandingan serta denda 15.000 franc Swiss. Tak ada ruang tafsir, tak ada ruang empati. Bagi federasi dunia, kasus selesai di meja regulasi.
Namun bagi sepak bola Indonesia, kisah ini belum selesai dan tak sesederhana itu.
Insiden panas usai laga Indonesia kontra Irak pada fase ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, 11 Oktober 2025, menjadi momen yang mengubah segalanya. Dorongan terhadap wasit Ma Ning dicap sebagai “perilaku kekerasan”.
Media Irak menulisnya lugas. FIFA menghakiminya cepat. Tapi publik Indonesia membaca lapisan lain: luapan emosi yang lahir dari rasa ketidakadilan yang menahun.
Sumardji memang melanggar aturan. Itu tak terbantahkan. Namun sepak bola tak hidup di pasal semata. Di lorong stadion malam itu, yang berdiri di depan bukan pejabat BTN, bukan pula aparat negara melainkan seorang anak bangsa yang memilih menjadi tameng ketika tim nasionalnya merasa diperlakukan tak setara.
Selama bertahun-tahun, Sumardji hadir dalam sunyi sepak bola nasional. Ia bekerja saat sorotan kamera mati. Ia berdiri ketika pelatih dan pemain diserang kritik. Ia bertahan di saat hasil buruk membuat banyak orang menjauh. Loyalitasnya tak diukur dari jabatan, tapi dari konsistensi.
Di era Shin Tae-yong, peran Sumardji bahkan semakin kentara. Pelatih asal Korea Selatan yang dikenal keras dan perfeksionis itu tak mudah memberi kepercayaan.
Namun Sumardji menjadi figur penting di ruang kerja Timnas sebagai jembatan budaya, peredam konflik, sekaligus penjaga stabilitas internal. Shin tak sekali dua kali menunjukkan bahwa kehadiran Sumardji adalah bagian dari fondasi kerja tim.
Ironisnya, hari ini Sumardji kerap direduksi hanya sebagai “anggota kepolisian yang melanggar etika internasional”. Narasi itu dangkal. Ia bukan sedang menjalankan tugas kepolisian, melainkan mengabdi pada sepak bola nasional. Seragamnya bukan atribut institusi, melainkan lambang tanggung jawab atas nama Indonesia.
Di titik inilah negara tak boleh absen.
[cut]
![]() |
| Sumardji |
Presiden Prabowo Subianto perlu melihat kasus ini secara utuh. Bukan untuk membenarkan pelanggaran, tetapi untuk menghargai jasa dan pengorbanan. Sumardji bukan sekadar aparat negara, bukan pula sekadar ofisial pertandingan.
Sumardji adalah warga negara yang telah menunjukkan loyalitas panjang pada Merah Putih melalui sepak bola, sebuah sektor yang kerap dilupakan kontribusinya dalam membangun harga diri bangsa.
Sepak bola adalah diplomasi emosi rakyat. Dan mereka yang bekerja di dalamnya, sering kali mengorbankan karier, reputasi, bahkan masa depan demi satu tujuan: membuat Indonesia berdiri sejajar.
FIFA boleh menjatuhkan sanksi. Itu hak mereka. Tapi negara punya kewajiban moral untuk tidak melupakan pengabdian. Menghukum tanpa menghapus jasa. Menegakkan aturan tanpa menghilangkan penghormatan.
Sejarah sepak bola tak hanya mencatat pemenang dan pecundang, tapi juga mereka yang berani berdiri di garis paling panas.
Di Indonesia, Sumardji mungkin akan dikenang bukan sebagai pesakitan FIFA, melainkan sebagai simbol keberanian bahwa di tengah ketidakadilan, masih ada yang memilih berdiri paling depan atas nama bangsa.
Editorial: IwanNK-Pemred inijabar.com





