![]() |
| Hj.Shinta Nuriyah Wahid saat di Gereja Kristen Pasundan Jemaat Depok |
inijabar.com, Depok – Guna mempererat silaturahmi dan persaudaraan semangat kebangsaan toleransi di tengah masyarakat, istri mendiang Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menggelar kegitan Sahur Keliling Bersama 2026, di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Depok, Pancoran Mas, Kota Depok, Senin (16/3/2026).
Kegiatan Sahur Keliling bersama yang dilaksanakan di beberapa Gereja daerah Indonesia tersebut kali ini mengangkat tajuk "Puasa Berbalut Bencana dan Goyangnya Demokrasi".
Dalam kesempatan itu, Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyampaikan bahwa sahur bersama seperti ini merupakan kegiatan yang sudah sering diadakan.
"Saya sering mengadakan kegiatan seperti ini dimana-mana. Dengan kaum duafa dan marginal, untuk di GKP Depok baru pertama kali," ujarnya di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Depok, Senin (16/32026).
Tokoh nasional yang akrab disapa Nyai Shinta Nuriyah Wahid itu menyatakan, dunia ini ada yang bisa diperebutkan semua orang, salah satunya yakni seperti kursi DPR.
"Kursi DPR boleh diperebutkan, tetapi untuk membangun bangsa dan negara Indonesia, tidak boleh untuk memecah belah negara," tegasnya.
Hj. Shinta meminta kepada seluruh lapisan masyarakat agar selalu tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
"Satu nusa satu bangsa itulah semboyan kita semua, apapun agama, sukunya kita tetap Indonesia, " pungkasnya.
Diharapkan kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan dan dialog lintas iman sekaligus mempererat persaudaraan khususnya dalam semangat kebangsaan dan toleransi di tengah masyarakat.
Sementara itu pada kesempatan yang sama, Pendeta, Yuyun Noormalia Madjiah mengakui bahwa dirinya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas kedatangan istri Presiden RI ke-4.
"Ini menjadi langkah yang luar biasa bagi kami, kenapa? Karena ini baru pertama kali di TKP Depok dan mungkin pertama bagi gereja-gereja. Ketika seorang tokoh bangsa bahkan istri Presiden mempercayakan sebuah event lintas iman dan yang diundang, justru berbeda keyakinan dengan kami yang Kristen dan semuanya welcome, "ujar Yuyun.
Dari momentum ini, lanjut Pendeta Yuyun, mengatakan bahwa hal ini merupakan sebuah pelajaran berharga.Karena Depok sekarang sudah sangat berbeda dengan Depok beberapa tahun yang lalu.
"Saya ingat Stara Institut pernah mencatat Depok sebagai kota yang paling intoleran dan hari ini menjadi sebuah bukti kalau itu adalah masa lalu,” pungkasnya.
Setelah acara tersebut, pihaknya berharap dengan adanya kegiatan ini bisa menjadi sebuah gelombang besar untuk terjadi dan terjalin silaturahmi yang sangat erat.
Sehingga ke depannya Depok menjadi Kota inklusif yang ramah bagi semua agama, suku bangsa dan golongan yang diyakininya dalam kehendak Tuhan. (Risky)





