Densus 88 Gandeng Forum PUSPA Bekasi, Bendung Radikalisme di Era Digital

Redaktur author photo
Forum Puspa Bekasi bersama Densus 88 usai audensi.

inijabar.com, Kota Bekasi - Ancaman penyebaran paham intoleransi dan ekstremisme yang menyasar generasi muda di ruang digital, menjadi perhatian serius otoritas keamanan dan pemerintah daerah. 

Mengantisipasi hal tersebut, Tim Pencegahan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, resmi menggandeng Forum PUSPA dan PUSPAGA Kota Bekasi, untuk memperkuat benteng pertahanan sosial masyarakat.

Langkah strategis tersebut diawali dengan audiensi yang digelar di kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Kolaborasi ini bertujuan menyatukan visi dalam mendeteksi dini pola baru penyebaran konten radikal, yang kerap memanfaatkan sisi emosional remaja sebelum terpapar paham ekstrem.

Ketua Forum PUSPA Kota Bekasi, Enny Pristini, menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan harga mati, untuk membentengi warga dari target rekrutmen jaringan terorisme.

"Upaya ini sangat krusial guna mencegah keterlibatan masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, dari target rekrutmen jaringan terorisme, baik yang dilakukan secara tatap muka langsung maupun melalui infiltrasi di ruang digital," ujar Enny.

Menurut Enny, pola rekrutmen saat ini sudah jauh lebih canggih sehingga membutuhkan kepekaan dari semua pihak, mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikan.

"Kita harus meningkatkan kesadaran kolektif yang menyasar pelajar, tenaga pendidik, hingga tokoh agama. Tujuannya agar mereka mampu mengenali sejak awal, sekaligus menangkal paham berbahaya yang masuk ke lingkungan mereka," paparnya.

Lebih lanjut, Enny menjelaskan bahwa sinergi dengan Densus 88 ini akan ditindaklanjuti, dengan program-program konkret di lapangan. Ada tiga pilar utama yang akan menjadi fokus kerja sama ke depan.

"Pertama, kami akan membangun sistem deteksi dini untuk mencegah rekrutmen anak melalui media digital. Kedua, menggelar sosialisasi masif strategi kontra-radikalisme bagi pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa. Dan ketiga, memperkuat penyebaran nilai moderasi beragama sebagai benteng utama narasi ekstremisme," jelas Enny secara rinci.

Ia berharap, dengan adanya kerangka kerja operasional yang melibatkan DP3A dan Dinas Pendidikan, Kota Bekasi bisa menjadi garda depan dalam mencetak generasi yang kritis.

"Harapan kami, Bekasi tidak hanya sekadar responsif saat ada kejadian, tetapi aktif menciptakan generasi muda yang tangguh dan benar-benar bebas dari pengaruh radikalisme melalui edukasi yang berkelanjutan," pungkasnya.

Dalam pertemuan tersebut, tim Densus 88 Polri turut mengapresiasi keterbukaan Pemerintah Kota Bekasi. Sinergi ini dipandang sebagai langkah nyata memperkuat ketahanan sosial, sekaligus menjaga stabilitas keamanan di wilayah penyangga ibu kota. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini