![]() |
| Para siswi sekolah saat akan diberangkatkan ke Mako TNI Cilandak Jakarta |
inijabar.com, Jakarta- Sebanyak 150 siswa dari berbagai daerah di Jawa Barat resmi diberangkatkan mengikuti Pendidikan Karakter Pancawaluya di Markas Komando TNI Cilandak selama 14 hari.
Program yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu disebut sebagai upaya pembentukan karakter, disiplin, dan tanggung jawab generasi muda.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan para siswa akan menjalani pola hidup teratur ala militer sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat.
“Selama 14 hari di sana, kalian akan mendapatkan pengalaman, pendidikan, dan cara hidup yang baru. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, kalian akan diatur oleh tentara,” ujar Purwanto di Kantor Disdik Jabar, Bandung.
Program Pendidikan Karakter Pancawaluya langsung menyita perhatian publik karena melibatkan institusi militer dalam pembinaan siswa.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran soal kenakalan remaja, tawuran, hingga krisis disiplin di sekolah, Pemprov Jabar memilih pendekatan semi-militer sebagai solusi cepat membentuk karakter pelajar.
Mayoritas Peserta dari Kota Bandung
Dari total 150 siswa peserta, mayoritas berasal dari Kota Bandung dengan jumlah mencapai 104 siswa. Sisanya berasal dari beberapa daerah lain di Jawa Barat:
Kabupaten Bandung: 11 siswa
Kabupaten Bandung Barat: 1 siswa
Kabupaten Karawang: 4 siswa
Kabupaten Purwakarta: 17 siswa
Kota Bekasi: 1 siswa
Kota Cimahi: 12 siswa
Komposisi peserta ini memunculkan pertanyaan publik terkait indikator pemilihan siswa dan daerah prioritas program.
Apa Itu Pendidikan Karakter Pancawaluya?
Pancawaluya merupakan konsep pendidikan karakter khas Jawa Barat yang menekankan lima nilai utama pembentukan manusia unggul, yakni: Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (benar), Pinter (cerdas), Singer (terampil)
Pemprov Jabar menilai pendekatan ini penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki mental disiplin dan etika sosial.
Namun dalam implementasinya, pelibatan TNI menjadi sorotan karena dinilai membawa nuansa kedisiplinan militer ke dalam dunia pendidikan sipil.
Dibiayai Pemerintah, Jadi Investasi Karakter
Purwanto memastikan seluruh biaya program ditanggung pemerintah daerah. Menurutnya, anggaran tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi muda dari berbagai persoalan sosial.
“Pulang dari sana harus ada perubahan. Harus lebih disiplin, tahu mana yang baik dan buruk,” tegasnya.
Narasi “investasi karakter” kini menjadi strategi baru sejumlah pemerintah daerah di Indonesia. Ketika pendekatan sekolah formal dinilai kurang efektif menghadapi persoalan perilaku siswa, pelatihan berbasis kedisiplinan ekstrem mulai dipilih sebagai alternatif.
Efektifkah Pendidikan Ala Militer untuk Siswa?
Program semacam ini selalu memunculkan dua pandangan berbeda.
Pihak pendukung menilai pendidikan semi-militer efektif membangun disiplin, mental tangguh, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab pada remaja.
Namun kritik juga bermunculan. Sejumlah pengamat pendidikan menilai pembentukan karakter seharusnya lebih menekankan pendekatan psikologis, keteladanan guru, lingkungan keluarga, dan sistem pendidikan yang sehat, bukan sekadar pola komando ala militer.
Perdebatan ini diperkirakan akan terus mengiringi jalannya program Pendidikan Karakter Pancawaluya di Jawa Barat, terutama jika nantinya diperluas ke lebih banyak sekolah dan daerah.
Mengapa Program Ini Jadi Sorotan?
Ada beberapa alasan program ini ramai diperbincangkan publik dan berpotensi masuk Google Discover:
Melibatkan TNI dalam pendidikan siswa
Mengusung pola disiplin ala militer
Dibiayai APBD Jawa Barat
Menyasar pembentukan karakter generasi muda
Diluncurkan di tengah maraknya kenakalan remaja dan tawuran pelajar
Bagi sebagian masyarakat, langkah ini dianggap terobosan berani. Namun bagi sebagian lainnya, muncul kekhawatiran soal batas antara pendidikan karakter dan militerisasi pelajar.
Yang pasti, 150 siswa Jawa Barat kini menjadi angkatan awal yang akan menjadi tolok ukur berhasil atau tidaknya program Pancawaluya berbasis kedisiplinan militer tersebut.(*)



