![]() |
| Sefria Hotman Nasution (kiri) bersama dengan Rigel Pawallo (kanan) |
inijabar.com, Kota Bekasi - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus angka Rp 17.600 per dollar AS, mulai memicu dampak bervariasi di dunia usaha. Kondisi makroekonomi ini, langsung melahirkan dua sudut pandang berbeda dari para pelaku bisnis di lapangan.
CEO Mahaya Group, Sefria Hotman Nasution, menilai pelemahan rupiah ini harus dilihat secara objektif dalam konteks global, bukan semata-mata persoalan domestik.
"Hampir seluruh negara berkembang, mengalami tekanan serupa karena dinamika global saat ini, sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga Amerika Serikat," ujar Hotman saat disambangi di kantornya, Senin (18/5/2026).
Menyikapi gejolak tersebut, Hotman menjelaskan, bahwa investor asing institusi global tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan mata uang jangka pendek.
"Kami melihat minat terhadap Indonesia masih sangat tinggi. Bahkan dalam beberapa kondisi, pelemahan rupiah justru membuat Indonesia menjadi lebih kompetitif dari sisi investasi," lanjutnya.
Menurut pengusaha yang bergerak di bidang konsultan bisnis dan investasi itu, valuasi aset serta biaya produksi dalam negeri, justru terlihat jauh lebih menarik dalam perspektif mata uang asing.
Namun, Hotman menekankan, bahwa insentif murah bukan satu-satunya faktor penentu yang dicari oleh para penanam modal.
"Yang jauh lebih penting adalah kepastian. Investor membutuhkan kepastian regulasi, kepastian perizinan, konsistensi kebijakan, transparansi, serta efisiensi birokrasi," tegas Hotman.
Ia mengingatkan pemerintah, agar terus menjaga stabilitas makroekonomi dan mengendalikan inflasi, agar persepsi pasar tetap positif di Asia Tenggara.
"Jadi saya pribadi melihat kondisi ini bukan untuk disikapi secara pesimistis, tetapi lebih sebagai momentum untuk memperkuat daya saing nasional," ungkapnya.
Di lain sisi, kondisi kontras justru dialami oleh pelaku industri hilir nasional, yang ruang geraknya langsung menyempit akibat melonjaknya biaya operasional impor.
Di tempat yang sama, CEO Gamila Group, Rigel Pawallo, mengungkapkan bahwa lini bisnisnya di bidang penyedia peralatan pengeboran, kini berada dalam posisi dilematis akibat mahalnya dollar AS.
"Posisinya ketika kita mau naikkan harga, pelanggan kabur. Tapi kalau harga tidak dinaikkan, cash flow yang babak belur," keluh Rigel saat memberikan keterangan.
Akibat hambatan tersebut, perusahaan yang biasa mengimpor pipa besi dari China dan India itu terpaksa mengubah strategi bisnis secara mendadak demi bertahan.
"Yang tadinya banyak hampir 70 persen kita impor, sekarang kita balikkan. Jadinya 60 persen kita produk lokal, 40 persen kita impor," jelas Rigel.
Pengusaha yang bergerak dibidang Supplier Drilling Equipment & Media Podcast itu menyatakan, langkah membalikkan rasio belanja material terpaksa dilakukan, demi menstabilkan kondisi keuangan internal perusahaan agar tidak limbung.
Kendati demikian, Rigel menyebut barang lokal pun harganya ikut terkerek naik, karena bahan baku dasarnya masih mendatangkan dari luar negeri.
"Harus ada langkah-langkah preventif yang bisa dicegah. Karena kita hampir 80 persen kan barang-barang impor," papar Rigel.
Ia pun mendesak agar pemerintah segera turun tangan, dan tidak mendiamkan para pelaku usaha kelas menengah serta UMKM yang kini mulai berteriak.
"Terus juga bagi pengusaha-pengusaha bisa diberikan relaksasi, buat apa bayar pajak tetapi kondisi seperti ini juga," tutup Rigel.
Kondisi fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini memang melahirkan realitas yang kontras di masing-masing sektor usaha, bergantung pada posisi mereka dalam rantai pasok global.
Bagi industri berbasis impor, tekanan ini menjadi alarm keras untuk segera menata ulang efisiensi arus kas, demi bertahan dari lonjakan biaya operasional.
Sebaliknya, dari kacamata makro, situasi ini justru menantang pemerintah untuk mempercepat reformasi birokrasi dan menjamin kepastian regulasi, agar daya saing investasi nasional tetap kokoh di mata dunia.
Pada akhirnya, bauran kebijakan yang seimbang antara intervensi moneter dan proteksi sektor riil, akan menjadi kunci penentu apakah momentum ini akan menjadi badai ekonomi, atau justru titik balik penguatan pasar domestik. (Pandu)



