'Bar-bar', Kenapa Warga Sumbar Lebih Keras Merespons Abu Janda Dibanding Jabar?

Redaktur author photo
Permadi Arya alias Abu Janda

PERNYATAAN Permadi Arya alias Abu Janda yang menyebut istilah “bar-bar” kepada masyarakat Sumatera Barat dan Jawa Barat kembali memunculkan pertanyaan publik. 

Istilah bar-bar dilekatkan Abu Janda kepada masyarakat Jawa Barat dengan stereotip keras, emosional, dan temperamental. Namun menariknya, reaksi keras justru datang dari masyarakat Sumbar, sementara dari Jawa Barat nyaris tak terdengar penolakan terbuka, termasuk dari tokoh politik maupun Gubernur Jawa Barat .

Fenomena ini tidak sekadar soal ucapan kontroversial, tetapi menyangkut karakter budaya, pola komunikasi politik, hingga sensitivitas identitas daerah.

Budaya Kritik Masyarakat Minang Lebih Terorganisir

Masyarakat Sumatera Barat dikenal memiliki kultur intelektual dan tradisi debat yang kuat. Budaya “lapau” atau diskusi publik di kalangan masyarakat Minang membentuk karakter sosial yang responsif terhadap isu penghinaan identitas daerah. Ketika ada ucapan yang dianggap merendahkan harga diri kolektif, reaksi sosial cepat terbentuk.

Selain itu, diaspora Minang di berbagai daerah Indonesia juga memiliki solidaritas tinggi. Isu yang dianggap menyerang marwah orang Minang mudah menyebar dan mendapat tekanan publik secara luas.

Karena itu, saat Abu Janda melontarkan istilah “bar-bar” terhadap Sumbar, reaksi muncul bukan hanya dari tokoh politik, tetapi juga organisasi masyarakat, tokoh adat, hingga netizen Minang di berbagai daerah.

Karakter Warga Jabar Cenderung Cair dan Adaptif

Berbeda dengan Sumbar, masyarakat Jawa Barat memiliki kultur sosial yang lebih cair dan adaptif. Orang Sunda dikenal mengedepankan pendekatan santun, humoris, dan menghindari konflik terbuka. Dalam banyak kasus, masyarakat Jabar lebih memilih meredam ketimbang memperbesar polemik.

Stereotip “bar-bar” terhadap warga Jabar pun sering dianggap sebagai candaan media sosial, bukan penghinaan serius terhadap identitas etnis. Akibatnya, tidak muncul konsolidasi sosial untuk melakukan protes terbuka.

Faktor lain, Jawa Barat merupakan provinsi dengan populasi sangat besar dan heterogen. Identitas sosial masyarakatnya lebih terfragmentasi dibanding Sumbar yang memiliki ikatan kultural lebih solid.

Dedi Mulyadi Memilih Politik Merangkul

Sikap diam Gubernur Jawa Barat  juga bisa dibaca sebagai strategi politik. Dedi dikenal memiliki gaya komunikasi populis dan cenderung menghindari polemik identitas.

Selama ini, Dedi lebih fokus membangun citra sebagai pemimpin budaya yang dekat dengan rakyat kecil dibanding masuk ke konflik verbal di media sosial. Ia sering memilih narasi persatuan dan harmoni dibanding konfrontasi.

Bagi sebagian pendukungnya, langkah itu dianggap bijak agar isu tidak semakin gaduh. Namun bagi kelompok lain, diamnya elite daerah justru dipandang sebagai bentuk kurang tegas dalam menjaga kehormatan masyarakat Jawa Barat.

Media Sosial Membentuk Standar Reaksi Berbeda

Faktor lain yang tidak bisa diabaikan adalah pola konsumsi media sosial. Isu Sumbar dan Abu Janda saat itu berkembang di tengah tensi politik identitas yang masih panas pasca Pilpres. Sentimen agama dan etnis ikut memperbesar kemarahan publik.

Sementara saat stereotip terhadap warga Jabar muncul, konteks politiknya tidak sebesar isu Sumbar. Akibatnya, tidak terbentuk gelombang kemarahan kolektif yang sama.

Di era digital, besar kecilnya reaksi publik sering bukan ditentukan oleh isi ucapan semata, tetapi momentum politik dan siapa yang merasa paling dirugikan secara emosional.

Antara Harga Diri Daerah dan Kedewasaan Publik

Perbedaan respons antara Sumbar dan Jabar menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki cara berbeda dalam menjaga harga diri kolektifnya. Ada yang memilih perlawanan terbuka, ada pula yang memilih mengabaikan demi meredam konflik.

Namun satu hal yang penting, pelabelan stereotip seperti “bar-bar” tetap berpotensi memecah hubungan antardaerah jika terus dipelihara. 

Kritik di ruang publik seharusnya tidak berubah menjadi generalisasi terhadap identitas suku atau masyarakat tertentu.

Karena ketika stigma terus diulang, yang lahir bukan sekadar candaan, melainkan prasangka sosial yang bisa diwariskan di ruang digital maupun kehidupan nyata.

Ditulis oleh: Tim Redaksi

Share:
Komentar

Berita Terkini