Mengapa Rhoma Irama Lebih Keras Membahas Nasab daripada Melawan Abu Janda?

Redaktur author photo

 

Ilustrasi

NAMA Rhoma Irama kembali menjadi sorotan ketika ia aktif mengkritisi polemik nasab habaib dan keturunan Nabi Muhammad SAW. Bukankah seharusnya Rhoma fokus mengajak orang ber KTP Islam yang masih jauh dari ritual agamanya dan melakukan maksiat seperti karya-karya nya berjudul, Judi, Mirasantika, Ghibah, dan lain-lain.

Di sisi lain juga, sebagian publik mempertanyakan mengapa Rhoma terlihat lebih vokal membahas isu internal umat Islam dibanding menyerang tokoh kontroversial seperti Abu Janda yang sering dianggap oleh kelompok Muslim membuat pernyataan provokatif terhadap Islam dan adu domba seperti judul lagu salah satu karya Rhoma Irama.

Pertanyaan ini menarik karena menyentuh cara seorang seniman memilih medan perjuangannya. Karena keilmuan Rhoma di  bidang musik sudah tidak ada lawan debat yang sepadan. Berbeda dengan keilmuan agama masih banyak tokoh agama yang jauh lebih tinggi keilmuan dan pemahamannya dibanding Rhoma dan ini fakta.

Rhoma Melihat Ancaman dari Dalam Lebih Berbahaya

Dalam sejumlah pernyataannya di beberapa media, Rhoma tidak sedang menyerang konsep nasab secara keseluruhan. Yang ia kritik adalah jika status keturunan Nabi dijadikan legitimasi untuk memperoleh keistimewaan sosial atau kekebalan moral. 

Ia bahkan pernah menceritakan pengalaman mendengar ceramah seorang oknum habib yang menurutnya mengajarkan bahwa keturunan habib tetap mulia meski berbuat maksiat. 

Pandangan itu dianggap Rhoma bertentangan dengan prinsip Islam yang menilai manusia berdasarkan takwa dan amalnya.

Karena itu, bagi Rhoma, isu nasab bukan sekadar perdebatan sejarah, melainkan menyangkut otoritas keagamaan di tengah umat. 

Sebuah penelitian akademik bahkan menyimpulkan bahwa framing Rhoma dalam polemik nasab bertujuan menjaga kemurnian pemahaman agama, menghindari pengkultusan individu, dan mengembalikan ukuran kemuliaan kepada Al-Qur'an dan Hadis.

Dalam logika ini, ancaman dari dalam komunitas nampaknya dianggap Rhoma lebih berpengaruh dibanding serangan dari luar.

Namun sikap Rhoma juga dinilai sejumlah ulama offside karena berani membuat fatwa padahal keilmuan Rhoma lebih dikenal sebagai musisi dibanding soal pemahaman ilmu agama Islam.

Abu Janda Bukan Pemimpin Otoritas Keagamaan

Ada perbedaan mendasar antara tokoh seperti Abu Janda dan kelompok yang menjadi sasaran kritik Rhoma.

Abu Janda dikenal sebagai influencer media sosial yang kontroversial. Namun ia tidak memiliki basis pesantren, jaringan majelis taklim, atau legitimasi keagamaan yang kuat di kalangan umat Islam. Hanya klaim dan foto yang dipamerkan ke publik dia dekat dengan salah satu organisasi keagamaan dan mantan Presiden.

Sebaliknya, polemik nasab menyentuh kelompok yang memiliki pengaruh langsung terhadap praktik dakwah, penghormatan sosial, hingga struktur kepemimpinan keagamaan di sebagian masyarakat Muslim Indonesia. 

Karena itulah Rhoma tampak lebih merasa perlu masuk ke perdebatan tersebut.

Secara sederhana, jika Abu Janda dianggap sebagai "gangguan opini", maka polemik nasab oleh Rhoma dipandang sebagai "persoalan struktur otoritas agama".

Rhoma Selalu Fokus pada Moral Internal Umat

Sejak era 1970-an, Rhoma dikenal bukan hanya sebagai musisi tetapi juga pendakwah yang banyak mengkritik penyakit internal masyarakat Muslim.

Dalam lagu-lagu dan ceramahnya, ia lebih sering berbicara tentang judi, narkoba, kemaksiatan, korupsi, kerusakan moral, dan penyimpangan pemahaman agama daripada menyerang kelompok luar Islam. 

Setelah menunaikan haji, arah dakwah Rhoma semakin menekankan perbaikan akhlak umat dari dalam.

Ada Faktor Risiko Politik dan Sosial

Analisis lain yang tidak bisa diabaikan adalah faktor politik dan sosial.

Menyerang figur seperti Abu Janda atau kelompok-kelompok Islam liberal bisa menghasilkan pengaruh lebih besar meski perdebatan itu biasanya hanya berlangsung di media sosial dan cepat menghilang.

Sebaliknya, isu nasab justru akan memperkecil segemen penggemar Rhoma dikalangan muslim terutama para pecinta habaib dan kaum Islam moderat.

Namun Rhoma memilih masuk ke isu (nasab) tersebut, dan berharap pengaruhnya jauh lebih besar karena menyentuh basis massa yang memang selama ini menjadi audiens dakwahnya.

Dengan kata lain, dari sisi efektivitas pesan, kritik terhadap polemik nasab memberi resonansi yang lebih luas dibanding berdebat dengan seorang influencer.

Kritik yang Mengandung Risiko Besar

Menariknya, banyak orang menganggap mengkritik Abu Janda lebih berani. Padahal dalam realitas sosial, mengkritik isu nasab justru memiliki risiko yang tidak kecil.

Polemik tersebut menyentuh identitas, sejarah keagamaan, hubungan ulama-habaib, hingga legitimasi sebagian tokoh agama. 

Reaksi keras yang muncul dari berbagai pihak setelah pernyataan Rhoma menunjukkan bahwa isu ini jauh lebih sensitif daripada sekadar polemik media sosial.

Karena itu, sulit mengatakan Rhoma memilih jalan yang lebih aman.

Jika dilihat dari pola dakwah dan perjalanan hidupnya, Rhoma Irama tampaknya memandang persoalan nasab sebagai isu internal umat yang berkaitan dengan otoritas keagamaan, penghormatan sosial, dan kemurnian ajaran Islam. 

Sementara figur seperti Abu Janda lebih diposisikan sebagai bagian dari dinamika opini publik yang tidak memiliki pengaruh langsung terhadap struktur keagamaan umat.

Karena itu, fokus Rhoma bukan semata-mata soal siapa yang paling keras menyerang Islam, melainkan siapa yang menurutnya memiliki pengaruh paling besar terhadap cara umat memahami agama. 

Dalam perspektif tersebut, perdebatan nasab dianggap Rhoma lebih strategis dan lebih menentukan dibanding polemik dengan influencer media sosial.

Opini ini hanya sebuah analisa yang tidak ditujukan untuk memprovokasi hanya melihat realita yang ada.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini