Sampah Jabar Darurat, Mayoritas Sampah Rumah Tangga

Redaktur author photo
Antrian truk sampah di TPST Bantargebang Kota Bekasi

inijabar.com, Jakarta- Produksi sampah di Jawa Barat terus meningkat seiring tingginya aktivitas masyarakat dan pertumbuhan kawasan perkotaan. Mulai dari rumah tangga, pasar tradisional, pusat perniagaan hingga fasilitas publik menjadi penyumbang utama timbulan sampah yang kini menjadi persoalan serius di berbagai daerah.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 mencatat, sumber sampah terbesar di Jawa Barat berasal dari aktivitas rumah tangga dengan volume mencapai 4.120,51 ton atau sekitar 59,0


5 persen dari total timbulan sampah.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Jawa Barat bukan hanya disebabkan industri atau kawasan komersial, melainkan berasal dari aktivitas harian masyarakat sendiri.

Selain rumah tangga, kategori sampah lain-lain menyumbang 1.113,43 ton atau 15,96 persen. Pasar tradisional berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 598,71 ton atau 8,58 persen. Sementara sektor perniagaan menyumbang 6,18 persen dan kawasan permukiman maupun area tertentu sebesar 4,53 persen.

Tak hanya itu, aktivitas perkantoran juga menyumbang 3,69 persen terhadap total produksi sampah di Jawa Barat. Sedangkan fasilitas publik seperti terminal, taman kota dan pusat keramaian menyumbang sekitar 2,01 persen.

Beban Sampah Kian Berat

Besarnya volume sampah di Jawa Barat memperlihatkan bahwa sistem pengelolaan yang ada masih menghadapi tantangan besar. Di sejumlah daerah, pola penanganan sampah masih bertumpu pada sistem angkut-buang menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Model pengelolaan seperti ini dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan dari hulu karena proses pemilahan sampah di tingkat rumah tangga masih minim. Akibatnya, seluruh jenis sampah tercampur dan langsung dibuang ke TPA tanpa pengolahan optimal.

Kondisi tersebut membuat kapasitas TPA di berbagai wilayah semakin terbebani. Bahkan beberapa daerah mulai menghadapi ancaman krisis ruang pembuangan akibat tingginya volume sampah harian.

Di sisi lain, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemilahan sampah turut memperparah keadaan. Sampah organik, plastik hingga limbah rumah tangga masih banyak dibuang secara bercampur sehingga sulit untuk didaur ulang.

TPS Liar dan Ancaman Lingkungan

Persoalan lain yang muncul adalah maraknya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di berbagai wilayah Jawa Barat. Tumpukan sampah kerap ditemukan di pinggir jalan, bantaran sungai hingga lahan kosong.

Kondisi ini bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Sampah yang dibuang ke sungai maupun saluran air berpotensi menyumbat aliran drainase dan memperbesar risiko banjir saat musim hujan. Selain itu, tumpukan sampah organik juga dapat menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi lingkungan.

Masalah sampah di Jawa Barat kini tak lagi sekadar isu kebersihan, melainkan sudah menjadi persoalan lingkungan dan tata kota yang membutuhkan penanganan serius.

Pengelolaan Harus Dimulai dari Hulu

Pengamat lingkungan menilai solusi utama persoalan sampah tidak cukup hanya dengan menambah TPA atau memperbanyak armada pengangkut sampah.

Perubahan pola pengelolaan dari hulu menjadi langkah penting, terutama melalui pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

Edukasi masyarakat mengenai pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengolahan sampah organik dan daur ulang dinilai menjadi kunci untuk menekan lonjakan sampah di Jawa Barat.

Selain itu, pemerintah daerah juga didorong memperkuat pengawasan terhadap TPS liar serta meningkatkan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi dan ekonomi sirkular.

Jika tidak ditangani serius, lonjakan produksi sampah di Jawa Barat dikhawatirkan akan terus meningkat dan memicu persoalan lingkungan yang lebih besar di masa mendatang.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini