Hari Pancasila, Fungsionaris Partai Gerindra Kota Bekasi: Jangan Sampai Beton Mengalahkan Keadilan

Redaktur author photo
Fungsionaris Partai Gerindra Kota Bekasi Muhamad Syarif Peranginangin (baju putih) saat berpose di kantor Menkopolhukam

inijabar.com, Kota Bekasi – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan dengan upacara dan pidato kebangsaan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila harus hadir dalam kebijakan nyata, termasuk dalam pembangunan infrastruktur di daerah.

Di tengah masifnya pembangunan jalan, jembatan, drainase, transportasi publik hingga kawasan perkotaan di Kota Bekasi dan Jawa Barat, muncul pertanyaan mendasar: apakah pembangunan yang dilakukan saat ini sudah mencerminkan sila kelima, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia?

Fungsionaris Partai Gerindra Kota Bekasi, Muhamad Syarif Perangin-angin, menilai pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada proyek fisik dan angka pertumbuhan ekonomi semata. 

Menurutnya, semangat Pancasila mengamanatkan agar hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Hari Lahir Pancasila harus menjadi refleksi bersama. Infrastruktur memang penting, tetapi yang lebih penting adalah memastikan manfaatnya dirasakan secara adil oleh masyarakat, termasuk warga di kawasan pinggiran yang selama ini kerap tertinggal," ujar Muhamad Syarif Perangin-angin. Senin (1/6/2026)

Menurutnya, pembangunan yang berkeadilan bukan hanya membangun kawasan yang sudah maju, melainkan juga menghadirkan akses jalan, sanitasi, pendidikan, kesehatan, dan transportasi yang layak bagi masyarakat di wilayah yang masih mengalami ketimpangan pembangunan.

Pancasila dan Tantangan Ketimpangan

Di Jawa Barat, pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir berlangsung cukup agresif. Berbagai proyek strategis terus digulirkan untuk meningkatkan konektivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun demikian, ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah. Di sejumlah wilayah perkotaan, fasilitas publik berkembang pesat. 

Sebaliknya, masih terdapat kawasan yang menghadapi persoalan jalan rusak, banjir, keterbatasan transportasi umum, hingga minimnya ruang publik yang layak.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah proyek yang dibangun, tetapi juga sejauh mana proyek tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara merata.

"Pancasila mengajarkan gotong royong dan keadilan sosial. Karena itu pembangunan harus mampu mengurangi kesenjangan, bukan justru memperlebar jarak antara wilayah yang sudah maju dengan daerah yang masih membutuhkan perhatian pemerintah," kata Syarif.

Kota Bekasi Butuh Pembangunan yang Menyentuh Warga

Sebagai kota penyangga Jakarta dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, Kota Bekasi menghadapi berbagai tantangan infrastruktur, mulai dari kemacetan, banjir, kebutuhan transportasi massal, hingga penataan kawasan permukiman.

Dalam perspektif Pancasila, pembangunan infrastruktur tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Pemerintah juga perlu memastikan adanya pemerataan akses dan manfaat bagi masyarakat kecil.

Masyarakat yang tinggal di perkampungan padat, kawasan bantaran sungai, maupun wilayah pinggiran kota harus memperoleh perhatian yang sama dengan kawasan pusat pertumbuhan ekonomi.

Menjadikan Pancasila Sebagai Kompas Pembangunan

Hari Lahir Pancasila menjadi momentum penting untuk mengingat bahwa pembangunan sejatinya adalah instrumen menghadirkan kesejahteraan rakyat.

Jika jalan tol, flyover, stadion, atau gedung megah hanya dinikmati sebagian kelompok masyarakat, maka semangat sila kelima belum sepenuhnya terwujud. 

"Pembangunan fisik bukan hanya mencari cuan atau keuntungan semata bagi pihak yg terlibat tetapi juga menata lingkungan dan perkotaan yang indah dan asri,"ucap Syarif.

Sebaliknya, ketika pembangunan mampu menghadirkan akses yang setara, mengurangi kesenjangan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat luas, maka nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam praktik pemerintahan.

"Pancasila harus menjadi kompas pembangunan. Setiap rupiah anggaran yang digunakan untuk infrastruktur harus bermuara pada kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Itulah esensi yang perlu kita maknai bersama pada Hari Lahir Pancasila tahun ini," tutup Muhamad Syarif Perangin-angin.

Momentum 1 Juni bukan hanya mengenang lahirnya dasar negara, tetapi juga mengingatkan bahwa pembangunan yang berkeadilan adalah bentuk nyata pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini