Sekolah Maung KDM di Jabar Sepi Peminat, Jalur Prestasi Malah 'Jonk'

Redaktur author photo
SMAN 1 Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi salah satu Sekolah Maung di Jabar

inijabar.com, Kabupaten Bekasi- Program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang digadang-gadang menjadi kawah candradimuka calon pemimpin masa depan ternyata menghadapi kenyataan yang tidak semanis narasi promosi. 

Hingga penutupan pendaftaran sementara per 31 Mei 2026, dua jalur utama dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Maung menunjukkan fakta mengejutkan: sepi peminat.

Data resmi menunjukkan Jalur Akademik hanya mampu menarik 582 pendaftar dari kuota 1.186 kursi yang tersedia. Artinya, tingkat keterisian baru mencapai 49,11 persen. Situasi lebih memprihatinkan terjadi pada Jalur Kejuaraan yang hanya memperoleh 405 pendaftar dari kuota 2.007 kursi atau sekitar 20,17 persen.

Bahkan terdapat sekolah yang sama sekali tidak mendapatkan pendaftar pada jalur tertentu. Fenomena "jonk" atau nol pendaftar terjadi pada Jalur Akademik di SMAN 1 Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi dan SMAN 1 Palimanan Kabupaten Cirebon.

Sementara pada Jalur Kejuaraan, nol pendaftar tercatat di SMAN 1 Banjar dan SMAN 1 Parigi Kabupaten Pangandaran.

Direktur Bilqis Haura Consultant, Tengku Imam Kobul Moh Yahya S, menilai kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi program yang identik dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM.


"Jika jalur akademik dan kejuaraan yang menjadi roh utama Sekolah Maung justru minim peminat, maka ada persoalan mendasar yang harus dievaluasi. Program ini terlihat belum siap tempur," ujarnya di Bekasi, Senin (1/6/2026).

Tiga Penyebab Sekolah Maung Kurang Diminati

Menurut analisisnya, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan rendahnya minat masyarakat terhadap Sekolah Maung.

Pertama, calon murid dan orang tua belum melihat urgensi maupun keuntungan konkret untuk masuk ke program tersebut.

Kedua, capaian prestasi akademik maupun kejuaraan siswa di Jawa Barat ternyata belum sebanyak yang selama ini dibayangkan. Ketika seleksi hanya bertumpu pada prestasi, basis calon peserta otomatis menyempit.

Ketiga, sosialisasi yang dilakukan pemerintah dinilai belum optimal. Banyak masyarakat masih belum memahami konsep, kurikulum, hingga arah pendidikan yang akan diterapkan di Sekolah Maung.

"Tiga faktor ini saling berkaitan. Kurang sosialisasi membuat masyarakat ragu. Ketika masyarakat ragu, pendaftar sedikit. Ketika prestasi siswa belum merata, jalur prestasi menjadi sulit terisi," kata Imam.

Jalur Rapor Membludak, Tapi Belum Tentu Karena Sekolah Maung

Berbeda dengan Jalur Akademik dan Kejuaraan, Jalur Rapor justru dibanjiri pendaftar. Dari kuota 5.200 kursi tersedia, tercatat 19.307 siswa mendaftar.

Namun tingginya angka tersebut belum tentu mencerminkan tingginya minat terhadap konsep Sekolah Maung itu sendiri.

Menurut Imam, syarat Jalur Rapor yang relatif sederhana membuat banyak siswa memilih mencoba peruntungan tanpa benar-benar memahami atau memiliki ketertarikan khusus terhadap program tersebut.

"Jalur rapor paling mudah karena cukup mengandalkan nilai semester satu sampai lima. Banyak yang mendaftar sekadar mencoba. Kalau diterima ya syukur, kalau tidak juga tidak masalah," ujarnya.

Menghapus Jalur Afirmasi dan Domisili Jadi Sorotan

Selain persoalan peminat, konsep Sekolah Maung juga menuai kritik karena tidak mengakomodasi jalur yang selama ini menjadi instrumen pemerataan akses pendidikan.

Imam Kobul Yahya mengatakan, dalam skema Sekolah Maung, seleksi hanya dilakukan melalui jalur prestasi yang terdiri dari akademik, rapor, kejuaraan dan non-akademik.

"Padahal dalam Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 tentang SPMB, penerimaan murid baru dilaksanakan melalui empat jalur utama yaitu domisili, afirmasi, prestasi dan mutasi,"ujarnya.

Kondisi tersebut, kata dia, memunculkan kekhawatiran bahwa siswa dari keluarga kurang mampu yang selama ini mengandalkan jalur afirmasi berpotensi kehilangan kesempatan mengakses sekolah unggulan.

"Jalur afirmasi dan domisili yang menjadi instrumen pemerataan justru tidak terlihat dalam desain Sekolah Maung. Ini berpotensi menimbulkan eksklusivitas baru dalam pendidikan," kata Imam.

Bayang-Bayang Kegagalan RSBI

Imam juga membandingkan Sekolah Maung dengan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang pernah populer pada awal tahun 2000-an.

Program RSBI akhirnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi pada tahun 2013 karena dinilai bertentangan dengan prinsip kesetaraan pendidikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

"Kemiripan konsep sekolah unggulan berbasis seleksi ketat membuat sebagian kalangan menilai Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus berhati-hati agar tidak mengulang polemik yang sama,"bebernya.

Alarm Bagi Program Politik Pendidikan

Terlepas dari berbagai pro dan kontra, data pendaftaran sementara Sekolah Maung menunjukkan satu fakta yang sulit dibantah: antusiasme masyarakat belum sejalan dengan ekspektasi pemerintah.

Jika dua jalur utama yang menjadi simbol prestasi justru gagal memenuhi kuota, maka evaluasi menyeluruh perlu dilakukan sebelum program ini berkembang lebih jauh.

Sebab dalam dunia pendidikan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemegahan konsep dan popularitas kepala daerah, melainkan juga sejauh mana program mampu menjawab kebutuhan riil siswa, orang tua, dan masa depan pendidikan itu sendiri.

Catatan:Sekolah Maung Jawa Barat yang digagas KDM menghadapi fakta mengejutkan. Jalur Akademik dan Kejuaraan sepi peminat, bahkan beberapa sekolah mencatat nol pendaftar. Benarkah program ini terlalu terburu-buru?

Share:
Komentar

Berita Terkini