![]() |
| Seniman Depok menggelar renungan malam dengan menyalakan lilin |
inijabar.com, Depok – Peringatan Malam Renungan AIDS Nusantara yang bertepatan dengan momentum Hari Sastra Buruh Indonesia menghadirkan pesan kuat tentang kemanusiaan, kesetaraan, dan perlawanan terhadap stigma.
Di tengah keterbatasan fasilitas seni yang dimiliki Kota Depok, para seniman, aktivis, dan komunitas pendamping Orang Dengan HIV (ODHIV) memilih menyalakan harapan melalui panggung budaya.
Bertempat di Markas Seni Margonda 331, Kota Depok, acara bertajuk “Light The Legacy” menjadi ruang refleksi sekaligus kampanye sosial untuk menghapus diskriminasi terhadap ODHIV.
Berbagai pertunjukan musikalisasi puisi, pembacaan karya sastra, renungan malam, hingga penampilan musisi dan komunitas pendamping HIV/AIDS menyatu dalam satu pesan: kemanusiaan harus ditempatkan di atas stigma.
HIV Masih Dihantui Stigma
Meski perkembangan ilmu pengetahuan membuat HIV dapat dikendalikan melalui pengobatan, stigma sosial masih menjadi tantangan terbesar bagi para penyintas. Banyak ODHIV masih menghadapi diskriminasi di lingkungan sosial, pekerjaan, bahkan dalam akses layanan publik.
Kolaborator acara, Tora Kundera, menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami HIV berdasarkan literasi yang benar, bukan berdasarkan ketakutan atau prasangka.
Menurutnya, ODHIV bukan kelompok yang harus dijauhi, melainkan warga negara yang berhak mendapatkan dukungan dan kesempatan yang sama untuk hidup produktif.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah masih maraknya kesalahpahaman mengenai cara penularan HIV. Edukasi yang tepat dinilai menjadi kunci untuk mengurangi diskriminasi yang selama ini membatasi ruang gerak para penyintas.
Sastra Buruh dan Perjuangan Hak Hidup Layak
Menariknya, peringatan Hari AIDS Nusantara kali ini dikolaborasikan dengan Hari Sastra Buruh Indonesia. Perpaduan keduanya bukan tanpa alasan.
Sastra buruh sejak lama menjadi medium untuk menyuarakan kelompok-kelompok yang kerap terpinggirkan. Dalam konteks HIV/AIDS, sastra menjadi alat untuk menyampaikan pengalaman hidup, perjuangan, dan harapan para penyintas yang sering tidak terdengar dalam ruang publik.
Melalui puisi, musik, dan karya seni, para seniman mencoba mengangkat isu HIV/AIDS dari sudut pandang kemanusiaan, bukan sekadar persoalan kesehatan.
Pesan yang muncul jelas: setiap manusia memiliki hak untuk dihormati tanpa memandang latar belakang, kondisi kesehatan, maupun status sosialnya.
Depok Belum Punya Gedung Kesenian
Di balik kemeriahan acara, terselip kritik terhadap minimnya fasilitas seni di Kota Depok.
Para penyelenggara menilai hingga kini Depok masih belum memiliki gedung kesenian representatif yang dapat menjadi ruang ekspresi bagi komunitas seni dan budaya. Kondisi tersebut membuat banyak kegiatan kreatif harus digelar secara swadaya dengan segala keterbatasan.
Padahal, ruang seni dinilai penting bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik, termasuk kampanye isu-isu sosial seperti HIV/AIDS, kesehatan mental, lingkungan, dan hak-hak kelompok rentan.
Keterbatasan itu justru menjadi bukti bahwa gerakan sosial dan budaya tidak selalu bergantung pada fasilitas mewah. Semangat kolaborasi komunitas mampu menghadirkan ruang alternatif yang hidup dan berdampak.
Menghapus Diskriminasi, Membangun Kesadaran
Ketua panitia sekaligus Wakil Ketua Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Pemuda Kuldesak, Rano Putra Samudera, berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin tahunan.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanganan HIV/AIDS saat ini bukan hanya soal pengobatan, melainkan bagaimana menghapus stigma yang masih melekat di masyarakat.
Kemudahan akses informasi melalui internet seharusnya membuat masyarakat lebih mudah memahami fakta-fakta tentang HIV/AIDS. Namun, literasi yang rendah masih menyebabkan banyak kesalahpahaman yang berujung pada diskriminasi.
Karena itu, kampanye "Support, Don't Punish" yang diusung komunitas pendamping ODHIV menjadi pengingat bahwa dukungan sosial memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas hidup penyintas.
Hari AIDS Nusantara Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Hari AIDS Nusantara sejatinya bukan hanya agenda tahunan, melainkan momentum untuk mengingat bahwa perjuangan melawan HIV/AIDS belum selesai.
Bukan hanya soal mencegah penularan, tetapi juga memastikan bahwa para penyintas mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara. Hak untuk berkarya, bekerja, berekspresi, dan hidup tanpa diskriminasi.
Melalui sastra, musik, dan solidaritas komunitas, para seniman Depok menunjukkan bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari panggung sederhana. Sebab, melawan stigma adalah bagian penting dari upaya menyelamatkan kemanusiaan.(risky)



