![]() |
| Plt Ketua DPC Hanura Kota Bekasi Muhammad Haikal saat memberikan sambutan di Muscab IV Partai Hanura Kota Bekasi |
inijabar.com, Kota Bekasi- Musyawarah Cabang (Muscab) IV Partai Hanura Kota Bekasi menjadi momentum bagi partai besutan Oesman Sapta Odang itu untuk menyatakan kebangkitan menjelang Pemilu 2029.
Pernyataan Plt Ketua DPC Partai Hanura Kota Bekasi Muhammad Haikal yang menargetkan mengembalikan empat kursi DPRD menjadi sinyal bahwa Hanura tak ingin lagi menjadi penonton dalam kontestasi politik Kota Bekasi.
"Dulu kita punya perwakilan DPRD sebanyak empat kursi. Selama ini kita pinjamkan kursi tersebut, nanti kita akan mengambil kembali dengan semangat baru," kata Haikal saat Muscab IV Hanura Kota Bekasi, Minggu (30/8/2026).
Pernyataan tersebut bukan sekadar nostalgia. Namun pertanyaan besarnya, seberapa realistis target Hanura kembali menjadi partai parlemen di Kota Bekasi?
Modal Historis Jadi Kekuatan
Hanura yang kini berlogo kepala singa ini memang pernah menjadi salah satu kekuatan politik di Kota Bekasi dengan empat kursi DPRD. Artinya, partai ini memiliki jejak elektoral dan jaringan kader yang pernah bekerja efektif.
Modal historis tersebut menjadi nilai tambah dibandingkan partai baru yang harus membangun basis pemilih dari nol.
Namun, politik selalu berubah. Basis pemilih yang dulu mendukung Hanura kini telah tersebar ke berbagai partai lain.
Persaingan politik Kota Bekasi saat ini jauh lebih kompetitif dibanding satu dekade lalu.
Partai-partai seperti PKB, PSI, dan PPP berhasil membangun mesin politik yang lebih aktif di tingkat akar rumput serta mampu mempertahankan bahkan menambah kursi di DPRD.
Selain itu, partai-partai besar seperti Gerindra, Golkar, PDI Perjuangan, PKS, Demokrat, PAN, juga masih menjadi pemain utama di Kota Bekasi yang memiliki struktur organisasi relatif mapan.
Artinya, Hanura tidak hanya harus merebut suara dari partai nonparlemen, tetapi juga mengambil ceruk suara dari partai yang sudah memiliki basis pemilih loyal.
Struktur Organisasi Jadi Kunci
Ketua DPD Hanura Jawa Barat, H. Dian Rahardian, menegaskan bahwa prioritas utama saat ini bukan berbicara target kursi, melainkan memperkuat organisasi hingga tingkat PAC dan ranting.
Langkah tersebut dinilai realistis karena keberhasilan sebuah partai pada Pemilu sangat bergantung pada kekuatan struktur hingga tingkat kelurahan.
Tanpa mesin politik yang aktif dan kader yang bekerja sepanjang tahun, peluang lolos ambang batas perolehan kursi akan semakin sulit.
Mampukah Bersaing ?
Jika melihat dinamika politik Kota Bekasi, Hanura memiliki peluang kembali ke DPRD Kota Bekasi, tetapi syaratnya tidak ringan.
Beberapa faktor yang akan menentukan antara lain:
1. Konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting berjalan efektif.
3. Mampu menghadirkan figur calon legislatif yang dikenal masyarakat.
4. Memiliki isu lokal yang relevan dan dekat dengan kebutuhan warga.
5. Aktif melakukan kerja politik jauh sebelum masa kampanye.
Sebaliknya, jika hanya mengandalkan romantisme kejayaan masa lalu tanpa kerja politik yang konsisten, Hanura berpotensi kembali berada di kelompok partai nonparlemen.
Peluang Masih Terbuka
Hadirnya Kesbangpol Kota Bekasi dalam Muscab menunjukkan proses demokrasi dan pembinaan partai politik terus berjalan. Namun, keberhasilan Hanura nantinya sepenuhnya akan ditentukan oleh kemampuan partai membangun kembali kepercayaan publik.
Pemilu 2029 masih menyisakan waktu yang cukup panjang. Waktu tersebut bisa menjadi kesempatan emas bagi Hanura untuk melakukan regenerasi kader, memperkuat struktur, dan menawarkan gagasan yang berbeda kepada masyarakat Kota Bekasi.
Apabila konsolidasi berhasil dan mampu menghadirkan tokoh yang memiliki daya tarik elektoral, Hanura berpeluang mengikuti jejak PKB, PSI, maupun PPP yang mampu memperoleh lebih dari satu kursi DPRD.
Namun bila konsolidasi tidak berjalan maksimal, bukan tidak mungkin Hanura kembali harus puas berada di luar parlemen bersama partai-partai yang gagal memenuhi ambang perolehan suara.(*)



