![]() |
| Wisata Tangkuban Perahu nampak sepi |
inijabar.com, Bandung Barat –Wisata Tangkuban Perahu terlihat sepi meski masih menjadi ikon wisata Jawa Barat. Benarkah harga tiket dan biaya masuk menjadi penyebab?.
Pemandangan tak biasa terlihat di kawasan wisata alam Gunung Tangkuban Perahu. Pada hari yang seharusnya masih ramai wisatawan, jumlah pengunjung justru tampak menurun.
Sejumlah warung di sepanjang jalur menuju kawasan wisata bahkan terlihat tutup. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pengunjung.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah biaya masuk menggunakan sepeda motor yang mencapai sekitar Rp36 ribu, sehingga dinilai cukup membebani wisatawan yang datang berkelompok.
Meski belum ada data resmi yang menyebut harga tiket sebagai penyebab utama turunnya kunjungan, pelaku usaha di sekitar kawasan wisata mengaku aktivitas ekonomi ikut melambat akibat sepinya wisatawan.
Harga Tiket Bukan Satu-satunya Faktor
Secara resmi, tarif masuk kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu terdiri dari tiket pengunjung dan biaya kendaraan. Tarif dasar yang dipublikasikan pengelola berbeda menurut hari kunjungan dan jenis kendaraan.
Namun, pengeluaran wisatawan sebenarnya tidak berhenti pada tiket masuk. Pengunjung juga harus memperhitungkan biaya parkir, makan, hingga transportasi menuju lokasi.
Bagi wisatawan keluarga, total biaya tersebut bisa menjadi pertimbangan untuk memilih destinasi lain yang menawarkan biaya lebih murah.
Warung Tutup Jadi Indikator Ekonomi Lesu
Sepinya kawasan wisata berdampak langsung terhadap pedagang kecil.
![]() |
| Warung-warung di sepanjang kawasan wisata Tangkuban Perahu terlihat tutup meski masih siang. |
Warung makan, kios oleh-oleh hingga penjual suvenir menggantungkan pendapatan dari ramainya wisatawan. Ketika jumlah pengunjung turun, banyak pedagang memilih tidak membuka lapaknya karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa perlambatan kunjungan wisata tidak hanya dirasakan pengelola objek wisata, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan ekonomi dari sektor pariwisata.
Persaingan Destinasi Wisata Semakin Ketat
Selain persoalan biaya, Tangkuban Perahu kini menghadapi persaingan yang semakin besar.
Di kawasan Bandung Raya dan Subang, wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi baru seperti wisata alam, glamping, kafe pegunungan hingga tempat wisata keluarga yang lebih modern.
Akibatnya, wisatawan cenderung membandingkan harga tiket dengan fasilitas dan pengalaman yang diperoleh sebelum memutuskan berkunjung.
Perlu Evaluasi Agar Wisata Bangkit
Sebagai salah satu ikon pariwisata Jawa Barat, Tangkuban Perahu memiliki daya tarik alam yang kuat.
Namun, jika tren penurunan kunjungan terus terjadi, diperlukan evaluasi menyeluruh, mulai dari kebijakan tarif, peningkatan fasilitas, promosi digital, hingga pemberdayaan pelaku UMKM di sekitar kawasan.
Sebelumnya, kawasan Tangkuban Perahu juga pernah mengalami penurunan kunjungan hingga sekitar 30 persen saat aktivitas vulkanik meningkat, menunjukkan bahwa jumlah wisatawan memang dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya harga tiket.
Kini, pertanyaannya bukan sekadar apakah tiket terlalu mahal, tetapi bagaimana menjaga agar destinasi legendaris Jawa Barat ini tetap menjadi pilihan utama wisatawan sekaligus mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.




