Editorial; Estafet Ketua Golkar Kota Bekasi inijabar.com
|
Menu Close Menu

Editorial; Estafet Ketua Golkar Kota Bekasi

Sabtu, 19 September 2020 | 07.38 WIB

HINGGA kini publik belum mendapat kejelasan kapan Musda (Musyawarah Daerah) ke V DPD Partai Golkar Kota Bekasi akan dilaksanakan.  Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi Ade Puspitasari kepada media hanya mengirim sinyal bahwa Musda harus dilakukan bulan September 2020 ini.


Justru yang nampak dipermukaan terutama di media, Ade Puspitasari  lebih banyak melakukan 'branding' personal. Persaingan dan perang opini di media  massa maupun di media sosial antar kandidat semakin tajam.


Sementara di kubu yang berkeinginan adanya perubahan tetap memainkan isu soal aset kantor DPD Golkar Kota Bekasi yang terletak di jalan raya Ahmad Yani Margajaya kecamatan Bekasi Selatan. Yang mereka nilai sebagai sebuah musibah dan bukti ketidak beresan Rahmat Effendi selama lebih dari 12 tahun memimpin Golkar Kota Bekasi.


Keinginan faksi pro perubahan di Partai Golkar Kota Bekasi agar kantor partai lembang pohon beringin tersebut yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani tetap jadi milik Golkar. Sehingga muncullah opini siapa pun calon ketua yang mampu mengembalikan kantor tersebut maka akan mereka  pilih sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bekasi.


Bisa jadi bagi Ade Puspitasari. hal tersebut sulit diwujudkannya . Bahkan Rahmat Effendi yang notebene sebagai ayahnya  dan dikenal sebagai politisi piawai tidak mampu menyelamatkan aset lahan tersebut.


Banyak pihak menilai hanya dua kandidat yang bisa memenuhi keinginan kader Golkar Kota Bekasi pro perubahan tersebut yakni Nofel Saleh Hilabi dan H. Zainul Miftah.


Kandidat ketua Golkar kota Bekasi Nofel Saleh Hilabi memang banyak disebut merupakan sosok muda yang berpeluang besar menduduki kursi tertinggi di Golkar Kota Bekasi dan hubunganya dengan elit DPP Golkar cukup bagus dan sisi finansial juga tak diragukan dari pengusaha muda ini. Namun resistensi Nofel pun sedang disorot oleh kubu rivalnya dari soal KTP domisili sampai soal ijasah SMA nya.


Kandidat lain yang bisa menjadi kuda hitam yakni H.Zainul Miftah. Posisi politiknya tidak diperhitungkan lawan maupun kawan. Namun kondisi tersebut bisa dimanfaatkan untuk menjadi bandul kekuatan sendiri dan menjadi posisi tawar pria yang akrab disapa H.Zain ini.


Ditambah kedekatan H.Zainul Miftah dengan pembeli lahan kantor Golkar Kota Bekasi Andy Salim menjadi garansi bahwa H.Zain mampu mengembalikan aset kantor Golkar tersebut.


Peta pertarungan politik di internal Golkar Kota Bekasi masih menarik dan ketiga kandidat tersebut masih tergolong usia muda dan semua masih berpeluang menjadi Ketua DPD Golkar Kota Bekasi periode 2020-2025. Dan inilah dinamika proses estafet kepemimpinan pasca Rahmat Effendi ke generasi milenial tidak semulus yang diperkirakan.


Penulis; H. Zakaria - Redaksi





Bagikan:

Komentar