![]() |
| Ilustrasi |
JIKA Pemerintah Kota Bekasi punya rating seperti sinetron prime time, maka 'Mutasi ke-3 ala Tri Adhianto' jelas sudah masuk kategori trending nomor satu, lengkap dengan soundtrack dramatis dan ekspresi kaget massal ASN di grup WhatsApp.
Belum selesai penonton menelaah plot mutasi jilid satu dan dua yang katanya untuk penyegaran, penataan, pembinaan, sampai pengkondisian ala telenovela tiba-tiba muncullah Mutasi Episode 3, sukses membuat banyak pegawai merenung sambil memegang SK dengan tatapan kosong seperti baru ditinggal nikah gebetan.
Tri Adhianto Presents: The Shuffle of Destiny
Mutasi ini, menurut sutradara utama alias Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, adalah bagian dari upaya menata ulang mesin birokrasi supaya lebih lincah. Tapi di lapangan, rumor yang beredar lebih kaya rasa daripada bakso urat.
Ada yang bilang rotasi ini tanda “bersih-bersih”. Ada yang menilai ini semacam “uji kekompakan”. Ada pula yang mengira ini adalah bentuk 'refresh' hubungan antara pimpinan dan bawahan agar tidak jenuh (mirip update aplikasi yang bikin fitur lama hilang semua).
Yang pasti, setiap kali mutasi diumumkan, detak jantung pegawai naik 20 persen. Bahkan BPJS mungkin perlu membuat sub-program 'Antisipasi Mutasi'.
Kontroversi Narkoba di Tengah Mutasi
Di tengah suasana tegang yang sudah seperti ujian CPNS, muncullah kasus lawas narkoba yang melibatkan oknum pejabat di lingkungan Pemkot. Ibarat film, ini seperti subplot yang tiba-tiba muncul dari balik lemari.
Publik pun mulai bertanya-tanya. Apakah ini kebetulan?. Apakah ini babak baru penertiban moral ala Pemda?. Atau sebenarnya ini bagian dari 'plot twist' yang tidak ada di draft naskah awal?
Yang jelas, Pemkot kini bukan hanya sibuk merotasi jabatan, tapi juga merotasi pernyataan klarifikasi. Situasi makin kocak ketika beberapa ASN saling memantau rambut masing-masing untuk memastikan tidak ada yang terlihat 'terlalu lembut' akibat pemeriksaan lab yang tak pernah diminta.
Efek Domino: Grup WA ASN Jadi Pusat Gosip Nasional
Kalau ada yang paling sibuk dalam seminggu terakhir, jawabannya adalah admin grup WhatsApp pegawai.
Pesan masuk tiap 10 detik;
“Nama gue masuk list nggak?”
“Katanya ada mutasi susulan?”
“Kasus narkoba itu beneran orang situ?”
“Siapa tau barisan sakit hati mau bikin spoiler?”
Seolah-olah semua berubah jadi wartawan investigasi dadakan, lengkap dengan teori konspirasi berlapis-lapis.
Publik Menonton, ASN Menahan Napas
Bagi masyarakat, seluruh drama ini jadi hiburan gratis. Bagi ASN, ini kombinasi antara horor, komedi, dan thriller politik.
Sebagian berharap mutasi membawa angin segar. Sebagian lagi hanya berharap tidak dipindah ke tempat yang sinyalnya dua bar. Dan sebagian terutama setelah heboh narkoba berharap Pemkot segera pasang spanduk besar:
“Bekasi Bersinar: Bersih dari Narkoba, Bersinar dari Mutasi Mendadak.”
Drama Masih Berlanjut
Mutasi ke-3 ala Tri Adhianto dan kontroversi narkoba ini hanyalah satu episode dalam serial panjang dinamika birokrasi Bekasi. Penonton (warga) hanya ingin pelayanan publik lancar. Pemeran tambahan (ASN) hanya ingin posisi aman. Sementara sutradara (Wali Kota) ingin alur cerita tetap terkendali.
Tapi seperti semua drama kota besar. Selalu ada kejutan. Selalu ada gosip. Dan selalu ada alasan untuk menonton episode berikutnya.



