![]() |
| Salah satu menu MBG |
LIBUR sekolah identik dengan tas yang disimpan rapi, sepatu yang berdebu, dan jam bangun pagi yang mendadak longgar. Namun bagi sebagian anak, satu hal tak boleh ikut libur yakni 'makan bergizi'.
Di gedung parlemen ramai pro kontra apakah MBG dihentikan kirimannya di saat libur sekolah, sementara yang lain berkata harus tetap diberikan di saat libur denhan mengubah teknis pendistribusian.
Di sejumlah daerah, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan meski kalender pendidikan sedang kosong. Dapur-dapur produksi tetap mengepul, relawan tetap sibuk, dan kotak makan bergizi tetap sampai ke tangan anak-anak—tak lagi di kelas, tapi di balai warga, posyandu, hingga rumah-rumah sederhana.
“Kalau sekolah libur, anak-anak justru lebih sering jajan sembarangan,” ujar Siti (42), kader PKK yang ikut mendistribusikan MBG di lingkungan padat penduduk. Menurutnya, libur sekolah bukan alasan menghentikan asupan gizi. “Perut anak kan tidak ikut libur.”
Program MBG yang biasanya terstruktur melalui sekolah harus beradaptasi. Skema distribusi diubah, jam dibikin fleksibel, dan sasaran diperluas. Anak-anak yang biasa antre rapi di kelas kini datang berkelompok, ditemani orang tua, membawa wadah sendiri, sambil sesekali bertanya, “Hari ini lauknya apa?”
Menu pun tetap dijaga: nasi, protein hewani, sayur, dan buah. Sederhana, tapi konsisten. Di balik itu, ada kerja senyap para petugas dapur yang tetap bangun subuh, meski tak ada bel sekolah yang berbunyi.
Bagi keluarga prasejahtera, MBG di masa libur sekolah menjadi penyangga penting. Pengeluaran rumah tangga meningkat saat anak lebih banyak di rumah. “Minimal satu kali makan anak saya aman gizinya,” kata Rudi (35), buruh harian lepas.
Di sisi lain, pelaksanaan MBG saat libur juga menjadi ujian serius: soal anggaran, ketepatan sasaran, hingga pengawasan. Namun di lapangan, satu hal terasa nyata—program ini bukan sekadar soal kebijakan, tapi soal kehadiran negara dalam piring makan anak.
Libur sekolah akan berlalu. Kelas akan kembali ramai. Tapi selama libur itu, MBG membuktikan satu pesan sederhana: hak anak atas gizi tidak mengenal tanggal merah.
Ditulis oleh Iwan NK- Pemred Inijabar.com




