![]() |
| Emak-emak Pekayon Rt 02/02 Bekasi Selatan memprotes petugas proyek perbaikan jembatan Kemang Pratama |
inijabar.com, Kota Bekasi- Sebanyak 15 emak-emak di wilayah Kampung Pekayon RT 02/02 Bekasi Selatan mendatangi pekerja yang sedang mengerjakan proyek perbaikan jembatan Kemang Pratama.
Mereka menuding akibat alat berat pengeboran yang menggunakan bor merk Sany 204 dan mesin Sony, termasuk alat pemadatan tanah di proyek itu, tembok rumahnya pada retak.
Warga menilai kegiatan tersebut dilakukan tanpa kompromi dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada warga sekitar, sehingga menimbulkan getaran hebat yang merusak rumah.
Salah seorang warga, Suryani (50), mengatakan aktivitas pengeboran langsung dilakukan tanpa adanya koordinasi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek.
“Tidak ada kompromi dulu sama warga. Tidak ada pemberitahuan, tahu-tahu mesin sudah jalan,” ucapnya. Selasa (30/12/2025)
Ia menjelaskan, setelah dilakukan pengeboran menggunakan mesin SANY 204, proyek dilanjutkan dengan pemadatan tanah menggunakan mesin Dolly yang menimbulkan getaran sangat kuat.
“Setelah dibor, langsung pakai mesin Dolly. Getarnya keras sekali, rasanya seperti gempa,” katanya.
Menurut Suryani, getaran paling parah dirasakan oleh rumah-rumah bertingkat dan bangunan yang berada di bagian depan lokasi proyek. Akibatnya, sejumlah rumah mengalami retakan, bahkan warga terpaksa keluar rumah karena panik.
“Rumah bertingkat paling parah. Ada yang retak, warung di depan juga ikut retak. Warga sampai pada turun semua,” jelasnya.
Ia menuturkan, mesin dioperasikan dua kali dalam satu hari, yakni pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB dan kembali dinyalakan dari siang hingga sore hari.
“Pagi sekitar jam sepuluhan bunyi, lalu siang sampai sore dibunyikan lagi. Getarnya terus-menerus,” tambahnya.
Suryani menyebutkan, lebih dari 14 rumah terdampak getaran, meski sebagian masih mengalami kerusakan ringan. Namun warga khawatir kerusakan akan semakin parah jika aktivitas proyek terus dilanjutkan.
“Kalau terus dijalankan, bisa hancur semuanya,” ucapnya.
Atas kondisi tersebut, para ibu-ibu Kampung Pekayon RT 02 RW 02 meminta agar aktivitas pengeboran dan pemadatan tanah dihentikan hingga ada kejelasan dan kesepakatan dengan warga.
“Kami minta dihentikan. Jangan jalankan mesin sebelum ada kompromi dan kesepakatan dengan warga,” tandasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek terkait tuntutan warga tersebut.(firman)




