Dinkes Kota Bekasi Pastikan Nihil Kasus Super Flu, Warga Diminta Tetap Waspada

Redaktur author photo
Ilustrasi

inijabar.com, Kota Bekasi- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada di tengah maraknya pemberitaan mengenai influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai super flu. Hingga awal Januari 2026, dipastikan belum ditemukan kasus super flu di wilayah Kota Bekasi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Vevie Herawati, menegaskan deteksi dini dan kedisiplinan menjaga kesehatan menjadi kunci utama pencegahan. Ia meminta warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala flu berkepanjangan.

“Jika mengalami demam, batuk, atau pilek lebih dari tiga hari dan tidak membaik, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas layanan kesehatan terdekat,” ujar Vevie, Selasa (6/1/2026).

Vevie menjelaskan, berdasarkan pemantauan hingga awal Januari 2026, belum terlihat adanya lonjakan signifikan yang mengarah pada kejadian luar biasa (KLB) di Kota Bekasi. Namun demikian, tingginya mobilitas masyarakat Bekasi yang beririsan langsung dengan aktivitas warga Jakarta menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi sejak dini.

“Untuk saat ini belum ada lonjakan ekstrem. Tetapi kami tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama karena aktivitas dan mobilitas warga Bekasi cukup tinggi setiap harinya,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus super flu tersebar di delapan provinsi di Indonesia. Sebaran terbanyak dilaporkan berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Kondisi tersebut mendorong daerah penyangga seperti Kota Bekasi untuk memperkuat sistem pemantauan kesehatan masyarakat.

Vevie mengungkapkan, data epidemiologi nasional sepanjang 2025 menunjukkan kelompok anak menjadi populasi paling rentan terhadap super flu. Anak usia 1 hingga 10 tahun tercatat mendominasi kasus terkonfirmasi secara nasional.

“Sekitar 35 hingga 40 persen kasus nasional menyerang anak-anak. Selain itu, secara statistik, kasus juga lebih banyak ditemukan pada perempuan,” jelasnya.

Adapun gejala yang kerap muncul pada penderita super flu meliputi demam tinggi yang datang secara tiba-tiba, batuk kering, serta penurunan nafsu makan yang cukup signifikan. Penularan virus terjadi melalui droplet atau percikan ludah saat batuk dan bersin, serta melalui kontak tidak langsung dengan permukaan benda yang terkontaminasi.

Meski tingkat penularannya dikategorikan rendah hingga sedang, Dinkes mengingatkan bahwa kondisi musim hujan dan tingginya kelembapan udara dapat membuat virus bertahan lebih lama di lingkungan, khususnya di ruang tertutup seperti kantor dan ruang kelas.

Sebagai langkah pencegahan tambahan, masyarakat yang sedang mengalami gangguan kesehatan diimbau menggunakan masker saat beraktivitas, terutama untuk menerapkan etika batuk. Warga yang baru kembali dari perjalanan luar daerah maupun luar negeri juga diminta memantau kondisi kesehatannya secara mandiri.

“Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak panik, namun tetap waspada. Kedisiplinan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat menjadi upaya pencegahan paling efektif,” tutupnya.(firman)

Share:
Komentar

Berita Terkini