Setahun Pimpin Pangandaran, Antara Citra Membangun dan Realita Fiskal Daerah

Redaktur author photo
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami

inijabar.com, Pangandaran – Satu tahun kepemimpinan Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, menjadi momentum evaluasi atas realisasi visi dan misi yang dijanjikan saat Pilkada. Publik kini menakar: sejauh mana arah perubahan yang digaungkan benar-benar terasa, dan di mana titik lemah yang masih mengganjal.

Sindiran dari Gubernur Jawa Barat terhadap Pemerintahan Kabupaten Pangandaran yang kesulitan keuangan daerah dan disebut mengandalkan "karcis' dalam membangun wilayah bisa menjadi cambuk untuk meningkatkan potensi pendapatan asli daerah.

Sebagai kepala daerah di Kabupaten Pangandaran, Citra Pitriyami datang dengan narasi pembenahan tata kelola, penguatan sektor pariwisata, serta perbaikan layanan dasar masyarakat. Namun, perjalanan satu tahun pertama tak lepas dari tantangan klasik daerah otonom muda: fiskal terbatas dan ketergantungan pada sektor wisata.

Citra Pitriyami dalam unggahan di media sosial sudah menyampaikan permohonan maaf selama satu tahun memimpin Pangandaran masih banyak kekurangan.

Dia mengakui membangun Pangandaran tidak bisa sendirian namun harus ada keterlibatan semua elemen dan masyarakat sendiri.

Plus: Konsolidasi dan Stabilitas Awal

Di tahun pertamanya, Citra dinilai relatif mampu menjaga stabilitas birokrasi tanpa gejolak besar. Konsolidasi internal pemerintahan berjalan cukup rapi, terutama dalam menjaga kesinambungan program prioritas daerah.

Sektor pariwisata – tulang punggung ekonomi Pangandaran – tetap menjadi fokus. Sejumlah upaya pembenahan kawasan destinasi unggulan dilakukan, termasuk penataan pedagang dan penguatan promosi event daerah. Dalam beberapa momen libur panjang, okupansi wisata menunjukkan tren positif yang berdampak pada perputaran ekonomi lokal.

Di sisi pelayanan publik, digitalisasi administrasi mulai disentuh meski belum merata. Langkah ini dinilai sebagai fondasi awal menuju tata kelola yang lebih modern dan transparan.

Minus: Visi Besar, Eksekusi Tersendat

Namun, kritik muncul pada aspek percepatan realisasi visi-misi. Sejumlah janji kampanye yang menyentuh isu kesejahteraan nelayan, penguatan UMKM berbasis desa, hingga reformasi birokrasi, dinilai belum menunjukkan lompatan signifikan.

Persoalan klasik seperti keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih menjadi hambatan struktural. Ketergantungan pada sektor wisata membuat ekonomi Pangandaran rentan fluktuasi. Diversifikasi ekonomi belum terlihat konkret dalam satu tahun pertama.

Selain itu, sebagian kalangan menilai belum ada terobosan besar yang benar-benar menjadi “legacy” awal kepemimpinan. Publik masih menunggu program yang bukan sekadar melanjutkan pola lama, melainkan menciptakan diferensiasi kepemimpinan.

Ujian Kepemimpinan Ada di Tahun Kedua

Tahun pertama sering disebut sebagai fase adaptasi. Namun tahun kedua akan menjadi ujian sesungguhnya. Apakah Citra mampu keluar dari zona administratif dan masuk ke fase transformasi?

Kabupaten Pangandaran membutuhkan lebih dari sekadar stabilitas. Daerah ini memerlukan inovasi fiskal, keberanian mengambil keputusan strategis, serta keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat kecil di luar sektor wisata.

Satu tahun berjalan, Citra Pitriyami belum gagal – tetapi juga belum sepenuhnya meyakinkan. Publik kini menunggu: apakah visi perubahan itu akan menjadi nyata, atau sekadar menjadi slogan lima tahunan.

Evaluasi ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan daerah bukan soal retorika, melainkan tentang keberanian menghadirkan dampak.(dik)

Share:
Komentar

Berita Terkini