![]() |
| Festival Manuk Janur dalam rangkaian Milangkala Kota Banjar |
inijabar.com, Banjar- Di setiap helaran seni Hari Jadi Kota Banjar, ada satu sosok yang selalu mencuri perhatian. Sayapnya terkembang, tubuhnya menjulang, dan kilau janur yang dianyam rapi memantulkan cahaya matahari sore. Itulah Manuk Janur sebuah karya tradisi yang bukan sekadar hiasan parade, melainkan simbol kebijaksanaan, keteladanan, dan filosofi hidup masyarakat Banjar.
Bagi warga Kecamatan Banjar, Manuk Janur bukan sekadar replika burung. Ia dikenal sebagai representasi Burung Dadali atau Garuda—lambang keagungan dan kekuatan. Bedanya, burung ini tidak terbuat dari logam atau kayu, melainkan dari janur, daun muda pohon kelapa yang lentur dan mudah dibentuk. Dari tangan-tangan terampil para perajin desa, helai demi helai janur disulam menjadi mahakarya yang hidup dalam gerak tari dan irama musik tradisional.
Tradisi ini diyakini telah tumbuh sejak lama, berakar dari kebiasaan masyarakat Sunda yang akrab dengan pohon kelapa sebagai “pohon kehidupan”. Dari akar hingga daun, semua bagian pohon kelapa memiliki manfaat. Filosofi inilah yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk Manuk Janur—sebuah pengingat bahwa manusia pun harus memberi manfaat bagi sesama.
Dalam setiap penampilannya, Manuk Janur tak pernah berdiri sendiri. Puluhan penari dengan atribut anyaman janur mengiringinya. Mereka bergerak selaras, menggambarkan harmoni, gotong royong, dan kebersamaan. Anyaman yang membalut kostum penari menjadi simbol keterikatan sosial—bahwa kekuatan lahir dari simpul-simpul kebersamaan.
Kepala Desa Cibeureum, Yayan Sukirlan, pernah menyebut bahwa Manuk Janur menyimpan makna filosofis yang tinggi. Ia mengibaratkan janur sebagai lambang kesucian niat dan ketulusan. Lenturnya janur mencerminkan karakter masyarakat yang adaptif, namun tetap kokoh dalam prinsip.
Tak hanya tampil dalam perayaan hari jadi kota, Manuk Janur juga kerap hadir dalam berbagai acara budaya dan penyambutan tamu penting. Ia menjadi identitas lokal yang membanggakan ikon yang mempertegas bahwa Banjar bukan sekadar kota lintasan, tetapi ruang budaya yang hidup.
Di tengah gempuran modernisasi dan budaya instan, keberadaan Manuk Janur menjadi penegas bahwa tradisi tak pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu untuk kembali dihidupkan, dirawat, dan dimaknai ulang oleh generasi penerus.
Dari janur yang sederhana, lahirlah simbol kebesaran. Dari anyaman yang rapuh, tercipta pesan keteguhan. Manuk Janur bukan sekadar seni. Ia adalah cermin nilai—tentang hidup yang harus bermanfaat, tentang kebersamaan yang harus dijaga, dan tentang warisan yang tak boleh hilang ditelan zaman.(*)





