![]() |
| Walikota Bekasi Tri Adhianto |
inijabar.com, Kota Bekasi- Pernyataan Walikota Bekasi Tri Adhianto terkait masih tingginya angka inflasi di Kota Bekasi di tengah daerah lain di Jawa Barat mengalami deflasi yang disebabkan oleh minat warga Kota Bekasi membeli emas.
"Satu sisi saya sedih inflasi masih tinggi (di Kota Bekasi), di sisi lain saya bangga ternyata warga Kota Bekasi orang kaya karena banyak yang mau borong emas. Ada mas Tri, ada mas Didit,"ujar Tri sambil becanda saat memberikan sambutan di acara Pelantikan Pengurus IWO Kota Bekasi pada Rabu 4 Januari 2026.
Tri menyatakan fenomena permintaan emas warga berkaitan dengan naiknya inflasi memicu kontroversi dan spekulasi publik.
Menurut publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi, inflasi tahun ke tahun (year-on-year) pada Januari 2026 mencapai 3,37%, menempatkan Bekasi di posisi tertinggi di antara daerah se-Jawa Barat untuk kategori tertentu.
Sementara itu, inflasi bulanan dan tahun berjalan juga menunjukkan pertumbuhan meski relatif kecil secara angka absolut.
Benarkah Emas Penyumbang Inflasi?
Menurut statistik BPS setempat disebutkan bahwa emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil inflasi, dengan kontribusi terhadap angka inflasi bulanan.
Namun, andilnya tidak dominan dibandingkan kelompok lain, dan biasanya hal ini terjadi karena pergeseran pola konsumsi, bukan karena lonjakan pembelian yang massif dari kalangan umum.
Harga emas naik bukan akibat spesifik warga Bekasi, tren naik harga emas telah dialami di seluruh Indonesia dan didorong oleh faktor global seperti ketidakpastian ekonomi, bukan hanya oleh hasrat membeli di Bekasi.
Inflasi Kota Bekasi lebih dipengaruhi oleh komoditi lain dan harga pasar umum seperti perawatan pribadi, jasa, hingga beberapa komoditas lain yang mencatatkan tekanan harga.
Permintaan emas bisa naik karena orang mencari aset aman ketika harga emas naik, tetapi itu bukan penyebab utama inflasi secara statistik, melainkan kontributor dalam indeks harga yang terukur.
Para ekonom biasanya menilai inflasi dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran barang/jasa secara luas, tekanan biaya produksi, serta ekspektasi pasar.
Sementara pembelian emas karena biasanya dianggap investasi atau penyimpan nilai tidak selalu mencerminkan konsumsi barang kebutuhan pokok dan biasanya hanya berkontribusi kecil terhadap peningkatan indeks harga konsumen.
Pernyataan Wali Kota Bekasi yang mengaitkan inflasi dengan “banyak warga ingin membeli emas” sulit dibenarkan secara data ekonomi statistik.
Faktor inflasi di Bekasi jauh lebih kompleks dan tidak dominan disebabkan oleh pembelian emas oleh warga secara umum.
Pakar Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menyatakan bahwa angka inflasi nasional yang sedikit lebih tinggi tidak harus dipahami sebagai tekanan harga yang luas di perekonomian, karena sebagian besar kenaikan adalah efek statistik (basis rendah) bukan kenaikan harga fundamental secara luas.
"Ini menunjukkan bahwa menyalahkan satu perilaku konsumen seperti membeli emas bukan penjelasan yang tepat secara ekonomi,"ujarnya.
"Implikasi Inflasi berkaitan dengan banyak komponen harga, bukan satu perilaku konsumen saja,"sambungnya.
Bank Indonesia (BI) sendiri mengakui bahwa kelompok komoditas emas perhiasan termasuk dalam komponen yang memberi andil terhadap inflasi inti, tetapi BI tetap menegaskan bahwa inflasi Indonesia secara keseluruhan masih terkendali dan dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti harga sewa rumah dan barang lainnya.
Inti Penilaian BI:
• Emas bisa menjadi salah satu kontributor statistik dalam indeks harga konsumen.
• Tetapi kontribusinya kecil dibandingkan faktor ekonomi yang lebih luas, seperti permintaan dan penawaran barang dan jasa umum.
Senada dikatakan Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., mengatakan, kenaikan harga emas lebih banyak dipicu oleh faktor global, seperti ketidakpastian ekonomi internasional dan permintaan global terhadap emas sebagai aset aman (safe haven).
"Itu berarti fenomena warga membeli emas lebih bersifat respons terhadap tren harga global, bukan sekadar sebab inflasi lokal,"ucapnya.
"Pembelian emas meningkat karena investor mencari aset aman saat ketidakpastian ekonomi global tinggi, bukan karena inflasi di Bekasi,"imbuh Wisnu.
Data BPS Kota Bekasi menunjukkan bahwa emas perhiasan memberi andil terhadap inflasi, tetapi andilnya kecil dibandingkan kategori harga lain seperti perawatan pribadi & jasa, ikan, atau kebutuhan pokok lainnya.
Artinya meskipun emas tercatat memberikan kontribusi statistik, itu bukan pemicu utama inflasi secara keseluruhan.(*)




