Dikasih Kompensasi Tak Mempan! Negara Kalah oleh ‘Tradisi’ Penyapu Koin Jembatan Sewo?

Redaktur author photo
Para penyapu koin di Jembatan Sewo Indramayu semakin ramai H+1 Idul Fitri 1447 hijriah

inijabar.com, Indramayu- Upaya penertiban aktivitas penyapu koin di kawasan Jembatan Sewo kembali menemui jalan buntu. Meski pemerintah telah menyalurkan kompensasi kepada warga, praktik memungut koin di jalanan yang membahayakan diri dan pengguna jalan tetap berlangsung.

Lokasi Jembatan Sewo (atau Jembatan Kali Sewo), Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Subang.

Aktifitas negatif itu tidak hanya terpusat di badan jembatan, tetapi juga meluas hingga sepanjang bahu jalan Pantura di sekitar jembatan, bahkan bisa memanjang hingga sekitar 2 kilometer saat puncak arus mudik.

Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran ketertiban lalu lintas, melainkan potret kompleks antara kemiskinan, budaya lokal, dan kegagalan intervensi kebijakan.

Di lapangan, warga yang terlibat menganggap aktivitas tersebut sebagai “pekerjaan turun-temurun”. Mereka berdiri di tepi hingga tengah jalan, menyapu koin yang dilempar pengendara, tanpa perlindungan keselamatan memadai. 

Risiko tertabrak kendaraan menjadi ancaman nyata, baik bagi penyapu maupun pengguna jalan.

Pendekatan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang hanya mengandalkan kompensasi finansial terbukti tidak efektif. Bantuan Rp600 ribu per orang selama 15 hari momen arus mudik Idul Fitri yang diberikan bersifat sementara.

Sementara kebutuhan ekonomi warga berlangsung setiap hari. Ketika bantuan habis, aktivitas kembali berulang.

Namun kalau hanya "mengusir" tanpa solusi pun akan tercitrakan kurang bijaksana. Membiarkan praktik penyapu koin pun pasti pemerintah dianggap 'kalah'.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah negara secara tidak langsung membiarkan praktik berbahaya ini terus hidup?

Kompensasi Bukan Solusi Jangka Panjang

Pemberian uang tanpa perubahan sistem hanya menjadi “penunda masalah”. Warga tidak benar-benar keluar dari ketergantungan, melainkan hanya berhenti sesaat.

Selain itu, tidak ada jaminan keberlanjutan ekonomi setelah kompensasi diberikan. Tanpa alternatif pekerjaan yang jelas, penyapu koin akan kembali ke jalan sebagai satu-satunya sumber penghasilan cepat.

Budaya atau Keterpaksaan Ekonomi?

Label “tradisi” yang dilekatkan warga juga perlu ditelaah lebih dalam. Apakah benar ini budaya, atau justru rasionalisasi dari keterbatasan ekonomi?

Banyak kasus serupa menunjukkan bahwa praktik berbahaya sering kali dibungkus sebagai budaya untuk mempertahankan legitimasi sosial. Padahal, akar utamanya tetap pada kemiskinan struktural dan minimnya akses pekerjaan.

Solusi yang Lebih Tepat: Bukan Sekadar Larangan

Penanganan penyapu koin membutuhkan pendekatan multi-lapis, bukan sekadar penertiban atau bantuan tunai. Beberapa solusi yang dinilai lebih efektif antara lain:

1. Penyediaan Lapangan Kerja Nyata

Program padat karya lokal harus menjadi prioritas, dengan menyasar langsung warga yang selama ini bergantung pada aktivitas tersebut.

2. Pendampingan dan Pelatihan Keterampilan

Alih profesi tidak bisa instan. Dibutuhkan pelatihan kerja yang sesuai dengan kondisi lokal, seperti usaha mikro, pertanian, atau sektor informal lain yang lebih aman.

3. Intervensi Sosial Berbasis Komunitas

Tokoh masyarakat dan perangkat desa perlu dilibatkan untuk mengubah pola pikir bahwa aktivitas tersebut bukanlah tradisi yang harus dipertahankan.

4. Penegakan Hukum yang Konsisten

Larangan harus ditegakkan secara tegas dan berkelanjutan. Tanpa penegakan hukum, kebijakan hanya menjadi imbauan tanpa efek.

5. Edukasi Keselamatan Publik

Kampanye masif kepada pengendara untuk tidak melempar koin juga penting. Selama “permintaan” masih ada, praktik ini akan terus hidup.

Antara Pembiaran dan Ketidakmampuan

Kondisi di Jembatan Sewo mencerminkan dilema klasik: antara niat membantu dan ketidakmampuan menghadirkan solusi menyeluruh.

Jika tidak ditangani serius, praktik ini bukan hanya soal ekonomi warga, tetapi juga menyangkut keselamatan publik dan wibawa negara dalam melindungi warganya.

Tanpa perubahan pendekatan, penyapu koin akan terus berdiri di jalanan menunggu recehan, sambil mempertaruhkan nyawa.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini