Dikritik Ortu Murid, Menu MBG di Bekasi Semakin Minimalis Harga dan Gizi

Redaktur author photo
Menu MBG di salah satu sekolah dasar di Jatiasih

inijabar.com, Kota Bekasi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN) menuai sorotan di sejumlah sekolah di Kota Bekasi dan sekitarnya selama Ramadan. 

Alih-alih menghadirkan menu bergizi sesuai standar anggaran, sejumlah siswa justru menerima paket yang dinilai “minimalis tapi penuh makna”.

Berdasarkan ketentuan BGN, alokasi anggaran MBG ditetapkan minimal Rp8 ribu per porsi untuk tingkat TK dan SD, serta Rp10 ribu per porsi untuk SMP dan SMA. Namun di lapangan, menu yang diterima siswa disebut-sebut jauh dari angka tersebut.

Di beberapa sekolah, siswa hanya mendapatkan satu buah jeruk, satu roti kemasan, dan satu cup agar-agar. Jika ditotal secara harga pasaran, paket tersebut diperkirakan hanya bernilai sekitar Rp4 ribuan.

“Kalau dihitung-hitung, ini lebih cocok disebut ‘makan ringan penuh harapan’,” ujar salah satu orang tua siswa sambil berseloroh.Selasa (3/3/2026)

Fenomena ini pun menjadi perbincangan hangat di kalangan wali murid dan masyarakat. Mereka mempertanyakan kesesuaian antara standar anggaran yang telah ditetapkan dengan realisasi menu yang diterima siswa.

Secara konsep, program MBG bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Namun, dengan komposisi menu yang terdiri dari buah, roti, dan agar-agar tanpa tambahan sumber protein maupun lauk utama, sejumlah pihak menilai kandungan gizinya perlu dievaluasi.

“Kalau ini dihitung sebagai makan bergizi, mungkin definisi gizinya sedang diet Ramadan,” celetuk seorang guru yang enggan disebutkan namanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara di daerah terkait perbedaan nilai anggaran dan realisasi menu tersebut. Masyarakat berharap ada transparansi dalam pengelolaan program, agar tujuan awal meningkatkan gizi siswa benar-benar tercapai, bukan sekadar angka di atas kertas.

Ramadan memang identik dengan kesederhanaan. Namun untuk urusan gizi anak sekolah, publik berharap kesederhanaan tidak berarti pengurangan standar.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini