![]() |
| Ilustrasi |
inijabar.com, Indramayu- Di bentang penghubung antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu, tepatnya di Jembatan Sewo, ada fenomena yang tak pernah benar-benar hilang: para penyapu koin. Di tengah deru kendaraan yang melaju kencang, mereka menantang maut demi recehan yang dilempar pengendara.
Peristiwa kecelakaan pada Selasa sore, 24 Maret 2026, menjadi potret nyata betapa aktivitas ini bukan sekadar “tradisi jalanan”, melainkan ancaman serius.
Seorang penyapu koin tertabrak mobil Isuzu Elf setelah sopir panik dan kehilangan kendali. Korban luka-luka, sementara arus lalu lintas sempat terganggu. Namun ironisnya, kejadian seperti ini bukan yang pertama dan tampaknya belum akan jadi yang terakhir.
Sorotan pun mengarah pada pemerintah daerah hingga provinsi. Bupati Indramayu disebut-sebut sudah berulang kali mengingatkan, bahkan melakukan penertiban. Namun upaya tersebut kerap seperti “mengusir angin” hilang sesaat, lalu kembali lagi.
Di tingkat provinsi, Kang Dedi Mulyadi yang dikenal vokal terhadap persoalan sosial di ruang publik juga tak tinggal diam. Ia kerap menyoroti praktik-praktik yang membahayakan keselamatan di jalan raya, termasuk fenomena penyapu koin.
Namun, kerasnya peringatan dan pendekatan persuasif yang digaungkan, belum cukup menghentikan kebiasaan ini.
Pihak kepolisian pun berada dalam posisi serba sulit. Penertiban memang bisa dilakukan, bahkan razia rutin digelar. Tapi, selama faktor ekonomi dan kebiasaan masyarakat tetap menjadi pemicu, para penyapu koin selalu kembali ke titik yang sama. Seolah ada siklus yang tak terputus: ditertibkan, hilang, lalu muncul lagi.
Fenomena ini juga tak lepas dari peran pengendara. Tradisi melempar koin yang mungkin dianggap sebagai bentuk sedekah spontan justru menjadi “bahan bakar” bagi praktik berbahaya tersebut. Tanpa ada yang melempar, tak akan ada yang menyapu.
Jembatan Sewo akhirnya bukan hanya sekadar jalur penghubung dua wilayah, tetapi juga simbol kegagalan kolektif: antara kebutuhan ekonomi, budaya jalanan, dan lemahnya penegakan aturan.
Kecelakaan yang terus berulang seharusnya menjadi alarm keras. Bukan hanya bagi para penyapu koin, tetapi juga pemerintah, aparat, dan masyarakat luas. Sebab di atas aspal itu, yang dipertaruhkan bukan sekadar receh, melainkan nyawa.(*)




