Keluarga Berharap Pemerintah Bantu Pulangkan ART Asal Kota Bekasi dari Maroko

Redaktur author photo
Lely Lydia (33) warga Teluk Pucung Bekasi Utara yang masih tertahan

inijabar.com, Kota Bekasi - Pihak keluarga Lely Lydia (33), warga Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, yang tertahan di shelter Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Maroko, berharap pemerintah dapat memfasilitasi kepulangan ibu satu anak tersebut.

Lely sebelumnya dikabarkan melarikan diri dari pihak agen penyalur kerja, karena diduga mengalami ketidaksesuaian beban kerja dan intimidasi.

N, kakak kandung Lely, mengungkapkan bahwa pihak keluarga saat ini sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya. Terlebih, Lely merupakan orang tua tunggal (single parent), yang menjadi tulang punggung bagi anak balitanya serta orang tua mereka di Bekasi.

"Harapan kami ada bantuan dari pemerintah. Kalaupun terkendala birokrasi karena status keberangkatannya, kami mohon setidaknya pemerintah membantu menekan pihak agen di sana, agar bertanggung jawab membiayai tiket kepulangan Lely," ujar N saat ditemui di kediamannya di Bekasi Utara, Rabu (11/3/2026).

N menceritakan, Lely sebenarnya merupakan lulusan S2 Sastra Inggris, yang sehari-harinya bekerja sebagai penerjemah lepas. Keputusannya berangkat ke Maroko pada Januari lalu, didasari oleh tawaran pekerjaan sebagai pengasuh anak (nanny) dengan janji gaji sekitar Rp 8 juta.

Namun, setibanya di sana, Lely diduga harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga yang berat di luar kesepakatan awal. Selain beban kerja, Lely juga dikabarkan sempat mengalami konflik verbal dengan majikan pertamanya, sebelum akhirnya dikembalikan ke agen.

"Dia bilang awalnya cuma jadi nanny, tapi ternyata harus mengerjakan semua tugas rumah yang berat. Ada konflik verbal juga dengan majikannya, itu yang membuatnya merasa tidak nyaman," ungkap N.

Upaya keluarga untuk memulangkan Lely secara mandiri sempat dilakukan, namun terkendala biaya tiket yang mencapai Rp 11 juta. Pihak keluarga sempat mencoba memesan tiket mandiri, namun proses tersebut terkendala teknis pada sistem pembayaran.

Di sisi lain, keluarga mengaku telah didatangi perwakilan instansi kelurahan hingga dinas terkait. Namun, mereka menyebut belum ada kepastian bantuan pemulangan karena status keberangkatan Lely yang diduga ilegal atau non-prosedural.

"Tadi dari pihak terkait menyampaikan bahwa kategori yang bisa dibantu pemulangannya biasanya terbatas. Karena statusnya dinilai kurang lengkap secara prosedur, kami diminta bersabar," jelas N.

Keluarga berharap, pemerintah tidak hanya meminta mereka bersabar, tetapi memberikan langkah konkret dalam berkomunikasi dengan otoritas di Maroko.

Merespons informasi tersebut, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnaker Kota Bekasi, Muhamad Iqbal Bayuaji, menyatakan tengah menindaklanjuti laporan mengenai keberadaan Lely di Maroko.

“Sedang kita dalami, apakah benar warga Teluk Pucung Bekasi Utara atau bukan,” paparnya.

Langkah awal yang dilakukan otoritas setempat adalah memastikan apakah Lely berangkat melalui jalur resmi atau mandiri. Penelusuran ini dinilai krusial, untuk menentukan skema perlindungan hukum dan bantuan pemulangan yang bisa diberikan oleh negara.

Publik kini menanti langkah nyata dari Disnaker Kota Bekasi dan Kementerian Luar Negeri, untuk memberikan perlindungan bagi warga negara, yang tengah tertahan di luar negeri tersebut. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini