inijabar.com, Kota Bandung- Keterbatasan anggaran hibah membuat KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jawa Barat tengah menghadapi tekanan serius jelang perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026 yang rencananya digelar di Kota Bekasi dan Kota Depok pada September 2026.
Persoalan anggaran hibah menjadi persoalan utama yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Ketua Umum KONI Jawa Barat, Muhammad Budiana, mengakui kondisi fiskal yang sedang tidak ideal. Ia menyebut kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat berdampak langsung pada kemampuan daerah dalam mendukung pembinaan olahraga.
“Ekonomi nasional memang sedang tidak mudah, kami tidak ingin bersikap egois soal anggaran hibah ini,” ujar Budiana.
Di sisi lain, arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini lebih difokuskan pada sektor-sektor prioritas seperti pembangunan infrastruktur jalan, pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan.
Langkah tersebut dinilai strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, namun berimplikasi pada terbatasnya ruang fiskal untuk sektor olahraga.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kesiapan Porprov 2026, yang sejatinya menjadi ajang krusial dalam proses pembinaan atlet daerah.
Ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan pintu awal menuju seleksi atlet untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2027.
Budiana menyatakan, rantai pembinaan tidak boleh terputus hanya karena persoalan anggaran. Ia juga berharap tidak terjadi gesekan antara KONI dan pemerintah daerah akibat ketidaksinkronan alokasi dana hibah.
“Porprov ini fondasi. Kalau terganggu, dampaknya bisa panjang sampai ke level nasional,” tegasnya.
Dengan waktu yang semakin mendekat, nasib Porprov Jabar 2026 kini berada di persimpangan: antara realitas keterbatasan anggaran dan tuntutan menjaga prestasi olahraga daerah tetap kompetitif di tingkat nasional.(*)




