Kisah Nyi Angga Waruling, Maestro Suling Buhun dari Hariang Sumedang yang Hilang Ditelan Zaman

Redaktur author photo
Ilustrasi

inijabar.com, Sumedang- Di Kampung Hariang, sebuah wilayah tua yang masih menyimpan jejak-jejak kebudayaan Sunda masa lampau, nama Nyi Angga Waruling tak sekadar dikenang. ia seperti terus “hidup” dalam bunyi, dalam napas, dan dalam ingatan kolektif warganya.

Kampung Hariang sendiri berada di wilayah Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, Kampung Hariang dikenal sebagai salah satu kampung adat yang masih menjaga tradisi dan kesenian buhun, termasuk cerita tentang Nyi Angga Waruling yang berkembang dari sana.

Berbeda dari kisah-kisah mistis yang kerap menyelimuti tokoh perempuan masa lalu, sosok seniman Hariang, Nyi Angga Waruling justru lebih kuat berdiri sebagai seniman.

Ia hidup sekitar abad ke-18, masa ketika kesenian menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual dan sosial masyarakat. 

Dalam catatan lisan dan silsilah Kampung Hariang, ia dikenal sebagai bagian penting dari kelompok seni “Sekar Terbang Buhun” sebuah embrio kesenian yang kemudian berkembang di wilayah tersebut.

Namun yang membuatnya istimewa bukan sekadar keikutsertaannya dalam kelompok itu. Nyi Angga Waruling adalah seorang peniup suling dengan kepekaan rasa yang jarang dimiliki orang lain. Dalam tradisi Sunda, suling bukan hanya alat musik—ia adalah medium rasa. Dan pada diri Nyi Angga, suling menjadi “suara batin”.

Warga tua Hariang menyebut, tiupan sulingnya tidak hanya indah, tetapi juga mampu “mengikat suasana”. Dalam pertunjukan, ia bisa membuat orang terdiam, bahkan larut dalam perasaan yang sulit dijelaskan antara rindu, haru, dan ketenangan. 

Ada yang percaya, ia memainkan nada bukan hanya dari teknik, tetapi dari pengalaman hidup dan kedalaman jiwa.

Lebih jauh, ada keyakinan bahwa Nyi Angga Waruling memiliki hubungan batin yang kuat dengan alam. Ia sering memainkan suling di tempat-tempat sunyi—di tepi hutan, di dekat aliran air, atau di bawah cahaya bulan. 

Dari situlah muncul anggapan bahwa bunyi sulingnya “menyatu” dengan suara alam, seolah-olah angin, daun, dan air ikut menjadi bagian dari komposisinya.

Kisah tentangnya juga tidak lepas dari nuansa spiritual. Pada masa itu, kesenian sering berkelindan dengan laku batin. Seorang seniman bukan hanya dituntut mahir, tetapi juga memiliki “rasa” dan “tata krama” terhadap alam dan kehidupan. 

Dalam konteks ini, Nyi Angga Waruling dipandang bukan sekadar pemain musik, melainkan penjaga harmoni antara manusia, seni, dan semesta.

Seiring waktu, namanya memang tak lagi sering disebut dalam panggung-panggung modern. Namun “jejaknya” diyakini masih tersisa. Beberapa pelaku seni di Hariang percaya, gaya permainan suling tradisional yang lembut dan meditatif yang masih dipertahankan hingga kini, adalah warisan tak langsung darinya.

Ada pula cerita yang lebih puitis: pada malam-malam tertentu, ketika suasana benar-benar sunyi, sebagian warga mengaku pernah mendengar suara suling samar dari arah hutan. Bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dikenang—sebagai tanda bahwa seni sejati tak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk.

Pada akhirnya, sosok Nyi Angga Waruling bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah simbol tentang bagaimana kesenian lahir dari kedalaman rasa, tentang perempuan yang mengambil peran penting dalam sejarah budaya, dan tentang suara yang mungkin tak lagi terdengar jelas, tetapi tetap bergema dalam ingatan zaman.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini