![]() |
| Para peserta berfoto bersama usai kegiatan diskusi. |
inijabar.com, Kota Bekasi - Rendahnya kesadaran masyarakat lokal terhadap potensi Batik Bekasi, masih menjadi tantangan utama dalam memperkuat pilar ekonomi kerakyatan dan industri kreatif di Kota Patriot.
Hal ini mengemuka dalam diskusi kebudayaan bertajuk 'Batik Bekasi sebagai Pilar Ekonomi Kreatif dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan', yang diinisiasi Komite Persiapan LMND Kota Bekasi bersama Komunitas Batik Bekasi (Kombas) di Gedung KNPI, Sabtu (14/3/2026).
Ketua Kombas, Barito, mengungkapkan bahwa pemahaman warga terhadap wastra khas daerahnya sendiri masih belum optimal, terutama di segmen generasi muda yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi kreatif.
"Kalau secara umum, masyarakat yang sudah mengetahui batik Bekasi baru sekitar 50 persen, khususnya di kalangan anak muda," ujar Barito dalam diskusi tersebut.
Menurut Barito, edukasi yang masif di lingkungan pendidikan menjadi kunci utama, agar batik tidak sekadar menjadi pajangan budaya, tetapi juga komoditas ekonomi yang berdaya saing. Ia mendorong agar program sosialisasi ke sekolah-sekolah kembali dihidupkan secara konsisten.
"Dulu kami cukup sering melakukan sosialisasi batik di sekolah-sekolah. Kegiatan seperti itu perlu dihidupkan kembali, agar generasi muda mengenal batik Bekasi," katanya.
Sebagai langkah konkret, Kombas terus mengupayakan promosi melalui berbagai lini, mulai dari partisipasi dalam ajang fashion show tingkat nasional, hingga penyelenggaraan workshop batik bagi masyarakat umum.
Diskusi yang juga menghadirkan Ketua Eksekutif Wilayah LMND DKJ, Alfonsus Mario Ravi itu, menyoroti perlunya kolaborasi strategis antara mahasiswa, pegiat budaya, dan pemerintah daerah untuk merumuskan rekomendasi nyata bagi pengembangan batik lokal.
"Melalui sinergitas ini, Batik Bekasi diharapkan mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi mandiri, yang mampu menyejahterakan warga sekaligus mempertegas identitas budaya kota," pungkas Barito. (Pandu)




