![]() |
| Tim Basarnas DK Jakarta dan BPBD Kota Bekasi saat berupaya mengevakuasi korban longsor di TPST Bantargebang |
inijabar.com, Kota Bekasi - Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban longsor gunungan sampah di Zona IV Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, resmi dihentikan pada Senin (9/3/2026) malam.
Tragedi yang terjadi di fasilitas pengolahan sampah terbesar di Jabodetabek tersebut menelan total 13 korban. Sebanyak tujuh orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara enam lainnya berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, mengonfirmasi bahwa seluruh korban yang dilaporkan hilang telah berhasil ditemukan setelah proses pencarian intensif.
“Sudah ditemukan semuanya. Malam ini telah kami tutup operasinya,” ujar Desiana dilansir, Selasa (10/3/2026).
Berdasarkan data tim gabungan, tujuh korban yang dinyatakan meninggal dunia memiliki latar belakang pekerjaan berbeda. Dua di antaranya adalah pemilik warung di sekitar lokasi, yakni Enda Widayanti dan Sumine.
Empat korban lainnya merupakan sopir truk sampah yang tengah mengantre saat longsor terjadi, yakni Dedi Sutrisno, Irwan Supriatin, Hardianto, dan Riki Supriadi alias Buyung. Satu korban tewas lainnya teridentifikasi sebagai Jussova Situmorang (38), warga yang berada di lokasi kejadian.
Di sisi lain, enam orang dinyatakan selamat dari maut. Mereka terdiri dari empat sopir truk bernama Budiman, Johan, Safifudin, dan Slamet, serta dua warga setempat berinisial Ato dan Dofir.
Proses evakuasi di tumpukan sampah Zona IV ini melibatkan upaya luar biasa, dengan mengerahkan 336 personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan. Sulitnya medan membuat tim harus menggunakan berbagai teknologi mutakhir.
“Pencarian juga dilakukan dengan menggunakan drone thermal. Hal ini kita lakukan untuk penyisiran melalui udara dengan mendeteksi panas tubuh,” jelas Desiana.
Selain pesawat nirawak sensor panas, tim SAR juga menerjunkan unit anjing pelacak (K9) milik Polda Metro Jaya, serta sejumlah alat berat untuk membongkar timbunan sampah yang sangat masif.
Kini, duka mendalam menyelimuti keluarga korban yang ditinggalkan, sembari menyisakan harapan besar agar evaluasi menyeluruh segera dilakukan, demi memastikan keselamatan para pejuang kebersihan dan warga sekitar tidak lagi tergadaikan oleh risiko bencana serupa. (Pandu)




