Menu MBG Dikeluhkan Ortu Siswa di Bintara, Yayasan KPN Bilang Begini

Redaktur author photo
Menu rapel 6 hari porsi kecil (kiri) dan porsi besar (kanan) dari Yayasan Kasih Persada Nusantara.

inijabar.com, Kota Bekasi - Keluhan sebagian orang tua murid soal porsi menu makan bergizi gratis (MBG) dan dinamika pergantian manajemen dapur penyedia, mendorong pihak yayasan turun langsung ke lapangan.

Koordinator Yayasan Kasih Persada Nusantara, Fandi Achmad Maulana, memastikan distribusi makanan tetap berjalan sesuai standar di tengah masa transisi yang sedang berlangsung.

"Hari ini saya turun langsung ke sekolah untuk memastikan pendistribusian sudah berjalan dengan benar dan kualitas makanan yang dibagikan layak konsumsi," ujar Fandi saat ditemui di SD Negeri Bintara II, Kota Bekasi, Rabu (4/3/2026).

Dalam kunjungannya, Fandi juga menemui koordinator lapangan sekolah SDN Bintara II serta wali murid untuk menyerap evaluasi secara langsung.

Fandi mengakui bahwa distribusi kali ini dilakukan sekaligus untuk enam hari atau dibundel dalam satu pengiriman (periode 2-7 Maret 2026). Padahal, rekomendasi Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan batas maksimal distribusi hanya untuk tiga hari.

Kebijakan itu diambil, sebagai langkah sementara lantaran tengah terjadi pergantian manajemen di dapur penyedia. Mulai pekan depan, mekanisme distribusi dijanjikan kembali mengikuti petunjuk teknis BGN.

"Karena ada transisi manajemen, yayasan melakukan intervensi sementara. Minggu depan kami pastikan sudah kembali sesuai juknis," katanya.

Meski distribusi telah berjalan, sejumlah orang tua murid masih menilai porsi yang diterima anaknya tergolong kecil. Menanggapi hal itu, Fandi menegaskan pihaknya membuka ruang evaluasi seluas-luasnya.

"Program ini memang butuh perbaikan terus-menerus. Target kita jelas, tidak ada lagi isu keracunan, tidak ada lagi protes soal isian menu," tegasnya.

Fandi juga menjelaskan secara terbuka skema anggaran per hari yang selama ini kerap menjadi bahan pertanyaan publik. Paket distribusi kali ini disiapkan sebanyak 2.899 porsi dengan dua kategori penerima.

Untuk porsi kecil yang diperuntukkan bagi siswa PAUD, TK, SD kelas 1–3, dan balita, paket menu terdiri dari susu full cream kemasan (Rp19.500), roti tawar (Rp8.000), keju cheddar (Rp8.000), telur rebus (Rp5.000), pir (Rp4.500), dan pisang ambon (Rp3.000).

"Total nilai bahan baku porsi kecil mencapai Rp48.000 untuk paket enam hari, dengan kandungan gizi 2.037,5 kkal energi, 76,6 gram protein, 65,7 gram lemak, 284,4 gram karbohidrat, dan 37,8 gram serat," jelas Fandi.

Sementara untuk porsi besar yang diperuntukkan bagi siswa SD kelas 4–5, SMP, SMA, dan kelompok B2, paket serupa ditambah kornet sapi (Rp20.000). Total kandungan gizinya lebih tinggi, yakni 2.374,5 kkal energi, 95 gram protein, 73,4 gram lemak, 326,6 gram karbohidrat, dan 40,9 gram serat.

Ia menegaskan, penyusunan menu selalu dikoordinasikan bersama ahli gizi. Namun kondisi pasar menjelang Ramadan menjadi tantangan tersendiri bagi pihak penyedia.

"Menjelang Ramadan, stok bahan di lapangan terbatas dan harga cukup tinggi. Kami sebagai penyedia bahan juga merasakan kewalahan," ungkapnya.

Meski sempat terjadi dinamika internal dan miskomunikasi, Fandi memastikan yayasan tetap berkomitmen menjaga kualitas program hingga kondisi benar-benar kembali normal.

"Kami memang tidak punya kewenangan penuh dalam teknis dapur, tapi kami wajib memastikan anggaran yang sudah disediakan benar-benar sampai dan layak diterima siswa. Yang sudah terjadi jadi pelajaran. Ke depan kami pastikan lebih baik lagi," pungkasnya. (Pandu)

Share:
Komentar

Berita Terkini