![]() |
| Menu MBG yang diterima siswa SD Al Fajri Rawalumbu |
inijabar.com, Kota Bekasi- Lagi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) diprotes orang tua murid di salah satu sekolah di Kota Bekasi. Kali ini Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bojong Rawalumbu 3, Kecamatan Rawalumbu yang salah satunya diterima SD Al Fajri.
Salah satu orang tua murid dari SD Al-Fajri berinisial LR (40) mengaku kecewa setelah melihat langsung isi paket makanan yang diterima anaknya dirapel untuk 2 hari.
Menurutnya, sebagian besar menu yang diberikan berupa makanan kemasan sederhana.
“Kalau saya lihat menunya seperti ini, jujur saja saya merasa kurang sesuai dengan standar gizi yang sering disampaikan pemerintah. Isinya cuma roti, susu kotak, buah, sama snack kemasan,” ujar LR. Jumat (6/3/2026)
Dia mempertanyakan tujuan keberadaan dapur MBG apabila makanan yang dibagikan sebagian besar merupakan produk kemasan yang bisa dibeli langsung di pasaran tanpa perlu proses pengolahan.
“Buat apa ada dapur MBG kalau menunya kebanyakan sudah kemasan seperti ini? Harusnya kan ada makanan yang benar-benar dimasak supaya gizinya lebih jelas dan seimbang,” ungkapnya.
Menurut LR, alasan bulan Ramadan tidak seharusnya dijadikan dasar untuk mengganti menu dengan makanan kering atau kemasan. Ia menilai masih banyak pilihan menu yang tetap bisa dimakan saat waktu berbuka puasa.
“Jangan karena alasan lagi puasa, jadi dikasih makanan kering atau makanan kemasan seperti itu. Bisa saja dikasih menu, misalnya lauk seperti rendang atau ayam dengan sayur juga bisa dimakan nanti saat buka puasa,” katanya.
Ia juga menilai menu yang diberikan terlalu monoton dan tidak mencerminkan makanan bergizi yang seharusnya diterima anak-anak.
“Jangan setiap hari itu-itu saja. Maksud saya jangan roti lagi, susu lagi, roti lagi, susu lagi. Anak-anak kan butuh makanan yang lebih layak dan bergizi,” ujarnya.
Selain menyoroti menu, LR juga mempertanyakan pengelolaan operasional dapur MBG jika sebagian besar makanan yang dibagikan tidak dimasak langsung.
“Kalau makanannya tidak dimasak semua, lalu yang kerja di dapur bagaimana? Yang masak, yang cuci ompreng itu jadi nganggur dong. Terus mereka tetap digaji atau bagaimana? Kita sebagai orang tua murid kan tidak tahu,” ungkapnya.
Menurut LR, hingga saat ini belum ada transparansi yang jelas terkait pengelolaan anggaran maupun standar pelaksanaan program tersebut.
“Transparansi itu bukan cuma memposting harga makanan di media sosial. Itu bisa saja direkayasa. Orang tua murid butuh penjelasan yang benar-benar terbuka,” ujarnya.
Ia mengatakan, para orang tua siswa berhak mengetahui secara jelas bagaimana program tersebut dijalankan, termasuk standar kebersihan makanan, standar gizi, hingga penggunaan anggaran secara keseluruhan.
“Orang tua murid berhak mengetahui transparansinya dan itu harus bisa diakses oleh semuanya. Harus ada standar yang jelas, jangan asal-asalan,” tandasnya.(firman)




