Pasar Soreang Ambruk, Nyawa Melayang, Kelalaian Konstruksi atau Pembiaran Bertahun-tahun?

Redaktur author photo
Reruntuhan Pasar Soreang Kabupaten Bandung

inijabar.com, Kabupaten Bandung - Ambruknya deretan kios di Pasar Soreang pada Senin (16/3/2026), tak hanya menyisakan duka, tetapi juga memunculkan tanda tanya besar soal dugaan kelalaian konstruksi dan minimnya perawatan bangunan pasar.

Satu orang tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam insiden tersebut. Para korban telah dilarikan ke Rumah Sakit Hermina untuk mendapatkan perawatan intensif.

Di balik peristiwa tragis ini, sejumlah pedagang mengaku kondisi bangunan pasar sebenarnya sudah lama mengkhawatirkan. Atap yang rapuh, struktur penyangga yang mulai lapuk, hingga rembesan air saat hujan disebut kerap terjadi, namun tak kunjung mendapat penanganan serius.

“Sudah sering dikeluhkan, tapi cuma ditambal seadanya. Tidak pernah ada perbaikan menyeluruh,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.

Indikasi ini memunculkan dugaan kuat bahwa ambruknya bangunan bukan semata faktor alam, melainkan akumulasi pembiaran terhadap kondisi fisik pasar yang terus menurun.

Wakil Bupati Bandung, Ali Syakieb, yang meninjau langsung lokasi kejadian, menyampaikan duka cita dan memastikan akan ada langkah penanganan lanjutan. 

Namun, Ali Syakieb belum merinci apakah akan dilakukan audit menyeluruh terhadap konstruksi pasar.

Pemerintah daerah tidak bisa hanya fokus pada penanganan pascakejadian. Evaluasi terhadap kualitas pembangunan awal serta sistem pemeliharaan rutin menjadi krusial.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait usia bangunan, pihak kontraktor pelaksana, maupun kapan terakhir kali dilakukan inspeksi teknis terhadap Pasar Soreang.

Tim gabungan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti ambruknya kios. Namun tekanan publik mulai menguat, mendesak transparansi pemerintah daerah: apakah ini murni musibah, atau buah dari kelalaian yang dibiarkan terlalu lama?.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini