![]() |
DALAM sebuah unggahan video tergambar ekspresi Walikota Bekasi Tri Adhianto ketika menyaksikan pertandingan sepak bola antara Bekasi FC melawan sebuah klub dari luar daerah.
Kepalan dua tangan Tri yang diangkat ke atas sebuah ekspresi kebahagiaan melihat tim Bekasi FC mencetak gol ke gawang lawannya.
Berbanding terbalik ketika Persipasi bertanding. Tidak ada sorak sorai sang walikota tersebut bahkan kursi VIP pun terlihat kosong.
Sorotan penggemar militan sepak bola Kota Bekasi mengarah pada Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang dinilai lebih menunjukkan kedekatan dengan Bekasi FC ketimbang Persipasi, klub yang selama ini melekat dengan identitas sepak bola daerah.
Pergulatan persepsi ini menguat setelah sejumlah momentum publik memperlihatkan keberpihakan simbolik kepada Bekasi FC.
Padahal, Persipasi yang dikenal sebagai Persipasi Bekasi memiliki akar sejarah panjang dan basis suporter fanatik di Kota Patriot. Klub ini telah menjadi representasi kebanggaan lokal jauh sebelum munculnya entitas baru seperti Bekasi FC.
Sejarah vs Realitas Baru
Persipasi bukan sekadar klub, tetapi simbol perjalanan sepak bola Bekasi. Ketika Persipasi menorehkan prestasi dan meraih gelar juara, Tri Adhianto bahkan memasang banner besar bergambar dirinya memegang piala sebuah gestur yang kala itu dipandang sebagai bentuk kebanggaan dan dukungan penuh pemerintah daerah.
Namun kini, sikap politik dan komunikasi publik yang dinilai lebih condong ke Bekasi FC memunculkan pertanyaan: apakah sejarah panjang Persipasi tak lagi cukup relevan dalam kalkulasi kebijakan dan pencitraan?
Pengamat olahraga lokal menilai, dinamika ini tak lepas dari faktor manajemen dan kekuatan finansial. Bekasi FC disebut-sebut memiliki dukungan modal kuat dari pemiliknya, Putra Siregar, yang dinilai mampu menghadirkan stabilitas dan profesionalisme pengelolaan klub dibanding Persipasi.
Dalam ekosistem sepak bola modern, faktor finansial memang menjadi variabel krusial untuk keberlanjutan prestasi.
Antara Idealitas dan Realitas Politik
Dalam perspektif pemerintahan, kepala daerah memiliki kepentingan menjaga stabilitas, potensi investasi, dan citra kota. Jika Bekasi FC dianggap lebih siap secara finansial dan manajerial, maka dukungan bisa saja dilihat sebagai langkah pragmatis.
Namun di sisi lain, sikap tersebut berpotensi memicu kekecewaan suporter Persipasi yang merasa identitas lokal mereka terpinggirkan. Loyalitas terhadap klub historis sering kali tak sekadar soal prestasi, tetapi tentang ikatan emosional dan kebanggaan kolektif.
Pertanyaannya kini bukan semata soal pilihan klub, melainkan konsistensi sikap. Apakah perubahan dukungan ini bagian dari strategi pembinaan sepak bola yang lebih luas? Ataukah sekadar pergeseran orientasi karena faktor kekuatan modal?
Tri Adhianto sendiri yang juga menjabat sebagai Ketua KONI Kota Bekasi secara eksplisit belum menjelaskan arah kebijakan dukungan tersebut. Yang jelas, dinamika ini membuka ruang diskusi publik tentang peran kepala daerah dalam menjaga keseimbangan antara sejarah, aspirasi suporter, dan realitas industri olahraga modern.
Ditulis Oleh: Riyandi Fauzi- Pendukung kultural Persipasi




