![]() |
| Para pemuda di sepanjang jalan mendekati jembatan Sewo Indramayu ini berjajar rapih dengan sapu ditangannya siap meraih koin dari pengendara yang melintas |
inijabar.com, Indramayu- Gema takbir Idul Fitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026) malam, berubah menjadi panggung ironi di sejumlah ruas jalan Jembatan Sewo Indramayu. Di tengah malam takbiran yang mestinya membawa ketenangan, “pasukan penyapu koin” justru kembali memadati sisi kiri, kanan, hingga pembatas tengah jalan.
Dengan sapu bertangkai panjang di tangan, mereka berdiri di antara derasnya arus kendaraan. Bukan untuk membersihkan jalan, melainkan memburu recehan yang dilempar pengendara sebuah tradisi yang kian sulit dibedakan antara budaya dan potret kerasnya realitas ekonomi.
Padahal sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah turun langsung dan menjanjikan kompensasi sebesar Rp600 ribu per orang selama 15 hari masa arus mudik dan balik Lebaran. Harapannya jelas, menghentikan praktik berbahaya tersebut.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Alih-alih berkurang, jumlah penyapu koin justru tampak semakin banyak. Mereka seakan kebal terhadap imbauan, bahkan terhadap risiko yang mengintai setiap detik di tengah lalu lintas padat.
“Kami tidak dapat kompensasi,” celetuk seorang pemuda tanpa mengalihkan pandangan dari kendaraan yang melintas, matanya tajam mencari peluang koin jatuh ke aspal. Jumat (20/3/2026) malam.
Pernyataan singkat itu seperti menampar narasi kebijakan yang sudah lebih dulu digaungkan. Di satu sisi, pemerintah mengklaim solusi telah disiapkan.
Di sisi lain, suara di jalanan justru mengindikasikan distribusi yang tak merata atau mungkin tak pernah sampai.
Kemacetan pun tak terhindarkan. Kendaraan melambat, sebagian pengendara bahkan sengaja melempar koin, menciptakan siklus yang terus berulang: dilempar, dipungut, dipertaruhkan.
Ironinya, di malam yang identik dengan kemenangan setelah sebulan berpuasa, sebagian orang justru harus “berjudi” dengan nyawa demi recehan.
Fenomena ini menyisakan pertanyaan besar: apakah persoalannya sekadar pada kedisiplinan warga yang membandel, atau justru pada kebijakan yang belum sepenuhnya menyentuh mereka yang paling membutuhkan?
Di antara dentuman takbir yang menggema, suara sapu yang menyeret aspal menjadi pengingat bahwa di balik euforia Lebaran, masih ada cerita yang belum selesai.





