![]() |
| Pencarian korban longsor di TPST Bantar Gebang saat menggunakan alat berat. |
inijabar.com, Kota Bekasi - Tragedi longsor di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang hingga Senin (9/3/2026), tercatat sebanyak 13 korban dengan 4 dinyatakan meninggal dunia. Sementara Tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban meninggal dunia. Senin (9/3/2026)
Dengan temuan tersebut, total korban tewas dalam peristiwa longsor gunungan sampah itu bertambah menjadi lima orang.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, mengatakan korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di area yang disebut sekat dua, lokasi yang sebelumnya telah ditemukan sebuah truk pada malam hari.
“Untuk penemuan tadi, kita menemukan satu jenazah laki-laki dalam kondisi meninggal dunia. Lokasinya di sekat dua, tidak jauh dari truk yang ditemukan tadi malam,” kata Desiana kepada wartawan di lokasi pencarian.
Menurutnya, jenazah korban ditemukan sekitar lima meter dari posisi truk yang sebelumnya ditemukan tertimbun material longsor.
Berdasarkan proses evakuasi menggunakan alat berat, korban diduga tertimbun material sampah hingga kedalaman sekitar 10 meter.
“Kalau dari jarak dengan truk tidak jauh, sekitar lima meter. Untuk kedalamannya sekitar 10 meter saat proses pengangkatan menggunakan ekskavator,” ujarnya.
Meski demikian, identitas korban belum dapat dipastikan. Jenazah korban langsung dievakuasi dan dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian.
[cut]
![]() |
| Pencarian korban longsor di TPST Bantar Gebang saat menggunakan alat berat. |
Proses pencarian korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan menggunakan alat berat secara bergantian. Operasi pencarian dilakukan secara shift guna mempercepat proses evakuasi di lokasi longsor.
Terpisah, Anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, H. Gilang Esa Mohamad, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban, sekaligus menegaskan peristiwa tersebut harus menjadi alarm keras bagi seluruh pihak, untuk melakukan evaluasi serius terhadap sistem mitigasi risiko di kawasan tersebut.
“Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi bersama. Kita perlu melihat kembali bagaimana penggunaan dana Bantuan DKI (Bandek) selama ini serta proses assessment oleh tim monitoring dan evaluasi (monev) terhadap keselamatan di sana,” ujar Gilang saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (9/3/2026).
Gilang pun turut memberikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pasca-kejadian, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung meninjau lokasi dan membentuk Tim Tanggap Darurat, untuk menangani dampak bencana serta membantu para korban.
Menurut Gilang, langkah taktis dari Pemprov DKI ini sangat krusial agar penanganan di lapangan tidak berlarut-larut. Meski TPST Bantar Gebang menampung kiriman 5.000-8.000 ton sampah per hari dari Jakarta, ia menilai pengawasan ketat adalah kunci agar tragedi serupa tidak terulang.
Selain mengevaluasi hilir, Gilang mendorong Pemerintah Kota Bekasi untuk memperkuat strategi pengelolaan sampah dari hulu. Salah satu poin utamanya adalah penguatan TPA Sumur Batu, dan sosialisasi masif mengenai pemilahan sampah rumah tangga.
Ia juga mengusulkan langkah konkret berupa pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) baru, yang khusus mengelola limbah anorganik bernilai ekonomis.
“BUMD ini nantinya berperan sebagai offtaker atau penjamin harga bagi plastik, kertas, dan logam yang dikumpulkan bank sampah. Jadi, harga limbah bisa stabil dan memberikan kepastian ekonomi bagi penggiat lingkungan,” jelasnya.
[cut]
![]() |
| Pencarian korban longsor di TPST Bantar Gebang saat menggunakan alat berat. |
Gilang menekankan pentingnya peran Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) Kota Bekasi sebagai mitra utama pemerintah. Baginya, sampah tidak boleh hanya dilihat sebagai masalah lingkungan, tetapi harus dikelola menjadi fondasi ekonomi sirkular melalui dukungan kebijakan dan insentif yang memadai.
“Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi antara pemerintah, DPRD, dan komunitas, kita harus pastikan Bekasi menjadi kota yang lebih aman dan berkelanjutan,” tutup Gilang. (Pandu)






