Walikota Bandung Gusar Jalan Amblas Galian Optik Berubah Jadi Masalah Baru

Redaktur author photo
Salah satu hasil pengerjaan ducting di sisi jalan di wialayah Kota Bandung yang tidak rapih

inijabar com, Kota Bandung- Di tengah ambisi menjadi kota modern dengan jaringan telekomunikasi tertata rapi, Kota Bandung justru sedang menghadapi keluhan warga akibat jalan rusak dan galian kabel yang belum sepenuhnya selesai.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan proses merapikan galian kabel proyek Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (IPT) yang dikerjakan PT Bandung Infra Investama masih belum tuntas hingga Jumat (6/3/2026). 

Padahal sebelumnya Farhan telah memberi ultimatum agar seluruh perbaikan rampung paling lambat 5 Maret.

“Galian kabel masih belum tuntas hari ini, jadi saya akan selesaikan lagi hari ini. Masih ada waktu sampai tengah malam,” ujar Farhan saat meninjau wilayah Babakan Ciparay.

Ia menegaskan tidak ingin mendengar alasan apa pun dari kontraktor. Jika pekerjaan tidak selesai sesuai tenggat, sanksi akan diberikan.

“Saya enggak mau ada alasan, pokoknya harus selesai,” tegasnya.

Ambisi Merapikan Kabel Kota

Proyek Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (IPT) sebenarnya memiliki tujuan besar: merapikan kabel jaringan internet dan telekomunikasi yang selama ini semrawut di tiang-tiang kota. Sistemnya adalah menanam kabel dalam jaringan bawah tanah yang terintegrasi.

[cut]


Konsep ini bukan hal baru di kota besar dunia. Banyak kota memilih menanam kabel agar tata kota lebih rapi sekaligus meningkatkan kualitas jaringan digital.

Namun dalam praktiknya di Bandung, proses penggalian justru menimbulkan masalah baru.

Ketua tim proyek IPT dari PT Bandung Infra Investama, Boby Suryo Alam, menjelaskan pada tahap 1 hingga tahap 3 terdapat sekitar 80 lubang mainhole di 36 ruas jalan yang harus diperbaiki.

“Sekitar 70 lubang sudah clear, tinggal 10 lagi yang masih dalam proses perapian,” kata Boby.

Menurutnya, kerusakan jalan banyak terjadi karena tanah bekas galian belum cukup padat. Meski sudah ditambal dan diaspal, jika tanah belum solid maka permukaan jalan bisa kembali ambles.

Karena itu, pihaknya mengaku harus melakukan perbaikan berulang hingga struktur tanah benar-benar stabil.

Kontrak 30 Tahun

Boby menyebut tanggung jawab perusahaan tidak berhenti setelah proyek selesai. Berdasarkan kontrak, perusahaan wajib melakukan pemeliharaan hingga 30 tahun.

Jika ditemukan kerusakan di ruas jalan yang terdampak galian, tim patroli proyek akan melakukan perbaikan.

“Kami maintenance jangka panjang sampai 30 tahun ke depan,” ujarnya.

[cut]


Meski demikian, keluhan warga tetap bermunculan. Beberapa ruas jalan yang sempat diperbaiki kembali retak atau bergelombang.

Perusahaan meminta masyarakat bersabar karena proses pemadatan tanah membutuhkan waktu.

“Recovery-nya tidak instan, tetapi terus kami perbaiki apabila ada kerusakan,” kata Boby.

Bandung Bukan Satu-satunya

Bandung sebenarnya tidak sendirian dalam proyek penataan kabel bawah tanah. Sejumlah kota besar di Indonesia bahkan dunia sudah lebih dulu melakukannya.

Di Jakarta, program penataan kabel udara digencarkan sejak masa kepemimpinan Anies Baswedan. Pemerintah DKI menanam kabel fiber optik di dalam ducting bawah tanah agar tiang kabel bisa dikurangi.

Namun proyek tersebut dilakukan secara bertahap dengan pengawasan ketat karena risiko kerusakan jalan juga tinggi.

Sementara di Surabaya, pemerintah kota memilih pendekatan integrasi utilitas bawah tanah melalui koridor utilitas yang lebih terencana, sehingga proses penggalian tidak terlalu sering dilakukan di titik yang sama.

Di tingkat global, kota seperti Singapore dan Seoul bahkan telah lama menerapkan sistem utilitas terpadu. Kabel listrik, telekomunikasi hingga pipa utilitas ditempatkan dalam satu koridor bawah tanah khusus sehingga perawatan bisa dilakukan tanpa merusak permukaan jalan.

Tantangan Kota Tua

Bagi Bandung, tantangan terbesar adalah kondisi infrastruktur lama yang belum dirancang untuk jaringan utilitas bawah tanah terpadu.

Akibatnya, setiap pembangunan baru sering kali harus membuka jalan yang sudah ada.

[cut]


Jika tidak dilakukan dengan standar pemadatan tanah yang baik, dampaknya langsung terasa oleh pengguna jalan.

Kini, pemerintah kota berusaha memastikan proyek IPT tidak berubah menjadi sumber masalah baru bagi warga.

Ultimatum dari wali kota menjadi sinyal bahwa ambisi digitalisasi kota harus berjalan beriringan dengan kualitas infrastruktur dasar.

Sebab bagi warga, jalan yang mulus sering kali jauh lebih terasa manfaatnya daripada kabel internet yang tak terlihat di bawah tanah.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini