Dicopot Dari Jabatan Ketua PPP Kota Bekasi, Tawaran Parpol Lain Diprediksi Mampir di WA Gus Shol

Redaktur author photo
H.Sholihin dicopot dari jabatan Ketua DPC PPP Kota Bekasi

inijabar.com, Kota Bekasi- Pencopotan H. Sholihin dari kursi Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Bekasi justru berpotensi menjadi titik balik dalam perjalanan politiknya. 

Alih-alih meredup, sosok yang akrab disapa Gus Shol ini justru dinilai berada dalam momentum “naik kelas” di panggung politik lokal.

"Saya dizholimi oleh keputusan DPW dan DPP PPP dengan alasan katanya saya tidak membangun kebesaran PPP di Kota Bekasi. Lah saya ikut bertarung di Pilkada 2024 kan salah satu tujuannya membesarkan partai,"ujar Gus Shol. Minggu (12/4/2026).

Secara formal, alasan pencopotan adalah minimnya upaya membesarkan partai. Namun dalam praktik politik, pergantian posisi seperti ini kerap tidak semata soal kinerja, melainkan juga dinamika internal, konfigurasi kepentingan, hingga arah strategi partai menjelang kontestasi berikutnya.

Di luar itu, rekam jejak Gus Shol relatif solid. Dua periode sebagai anggota legislatif dan dua periode memimpin PPP Kota Bekasi menjadi modal penting yang tidak dimiliki banyak politisi lokal. Dalam konteks politik daerah seperti Kota Bekasi, konsistensi dan pengalaman sering kali menjadi mata uang utama dalam membangun kepercayaan publik.

Momentum terbesar datang saat dirinya maju dalam Pilkada 2024 berpasangan dengan Heri Koswara dari Partai Keadilan Sejahtera. 

Meski tidak harus menang untuk dianggap berhasil, partisipasi dalam kontestasi tersebut terbukti mendongkrak popularitas dan memperluas basis pengenalannya di masyarakat. Gus Shol tidak lagi sekadar figur partai, melainkan telah masuk kategori tokoh publik yang dikenal lintas segmen pemilih.

Faktor lain yang membuat posisinya tetap kuat adalah kemandirian finansial. Dalam realitas politik Indonesia, kemampuan membiayai aktivitas politik menjadi variabel krusial. Gus Shol dinilai memiliki kapasitas tersebut, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada mesin partai. Ini membuatnya lebih fleksibel dalam menentukan langkah politik ke depan.

Dengan kombinasi pengalaman, popularitas, dan sumber daya, sangat logis jika tawaran dari partai lain mulai berdatangan. 

Dalam situasi seperti ini, partai-partai yang membutuhkan figur siap pakai terutama untuk menghadapi Pilkada atau Pileg mendatang akan melihat Gus Shol sebagai aset strategis.

Namun, langkah berikutnya tetap menentukan arah kariernya. Ada tiga skenario yang mungkin terjadi:

Pertama, bertahan di PPP sebagai kader senior dan menunggu momentum politik berikutnya. Ini opsi yang stabil, tetapi berisiko jika ruang geraknya dibatasi.

Kedua, hijrah ke partai lain yang menawarkan posisi dan kendaraan politik lebih menjanjikan. Ini langkah berani, namun bisa mempercepat lonjakan karier jika ditempatkan secara strategis.

Ketiga, mengambil peran sebagai tokoh independen sementara waktu untuk menjaga citra dan memperluas jaringan sebelum menentukan afiliasi politik baru.

Yang jelas, pencopotan ini bukan akhir. Dalam politik, kehilangan jabatan struktural sering kali justru membuka ruang yang lebih luas. Gus Shol saat ini berada dalam posisi tawar yang cukup tinggi dan jika dikelola dengan tepat, bukan tidak mungkin justru menjadi batu loncatan menuju panggung politik yang lebih besar.(*)

Share:
Komentar

Berita Terkini