![]() |
| Komisioner Bawaslu Kota Bekasi, Jhonny Sitorus. |
inijabar.com, Kota Bekasi - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bekasi, merefleksikan hari jadinya yang ke-18, sebagai momentum untuk memperkuat integritas di tengah tantangan politik uang dan apatisme masyarakat.
Di kota yang dijuluki Kota Patriot ini, pengawasan pemilu dituntut bukan sekadar menjadi pelengkap prosedur, melainkan penjaga keadilan bagi suara rakyat kecil.
Komisioner Bawaslu Kota Bekasi, Jhonny Sitorus, menyatakan bahwa semangat kepahlawanan warga Bekasi saat ini telah bermetamorfosis menjadi keberanian warga, dalam melaporkan kecurangan dan menolak politik transaksional.
Jhonny mengungkapkan, tantangan terbesar Bawaslu saat ini adalah meyakinkan publik, bahwa suara mereka tetap terjaga. Ia menceritakan keresahan seorang pemuda yang ditemui saat merasa demokrasi hanyalah pertunjukan megah di panggung, namun gelap di belakang layar.
"Pertanyaan seperti 'Bawaslu menjaga siapa?' adalah pukulan bagi kami. Di Kota Bekasi, denyut demokrasi berdetak cepat di antara pabrik dan permukiman padat. Kami hadir untuk memastikan bahwa suara buruh hingga ibu rumah tangga tidak terabaikan oleh janji politisi musiman," ujar Jhonny Sitorus melalui keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, warga Kota Bekasi adalah pemilih yang cerdas. Mereka mampu menilai pejabat yang benar-benar bekerja, dibandingkan mereka yang hanya muncul saat musim kampanye dengan iming-iming sembako atau janji proyek yang tidak jelas.
Memasuki usia kedewasaan 18 tahun, Bawaslu Kota Bekasi memposisikan diri sebagai pengingat, bahwa pemilu bukanlah arena untuk menghalalkan segala cara. Jhonny mengibaratkan Bawaslu seperti 'penjaga malam' di kawasan industri yang tak pernah tidur.
"Saat masyarakat terlelap dalam euforia kampanye, kami menyusuri gang sempit untuk memantau potensi mobilisasi warga atau perusakan alat peraga. Kami bukan algojo politisi, kami adalah penjaga kepercayaan publik. Sekali kepercayaan itu runtuh, maka runtuh pula demokrasi kita," tegasnya.
Bawaslu mengakui perjalanan selama hampir dua dekade itu tidak mudah. Seringkali lembaga pengawas dihadapkan pada persimpangan, antara mengikuti prosedur kaku atau tunduk pada tekanan kekuatan yang lebih besar. Namun, komitmen untuk tetap berpihak pada rakyat menjadi harga mati.
Sebagai langkah nyata di tahun 2026, Bawaslu Kota Bekasi kini lebih proaktif dengan metode jemput bola. Pengawasan tidak lagi hanya menunggu laporan di kantor, tetapi dilakukan dengan berdialog langsung di pasar-pasar hingga melibatkan Karang Taruna sebagai mitra pengawas partisipatif.
"Jiwa kepahlawanan sejati bagi warga Kota Bekasi saat ini, adalah keberanian berkata jujur meskipun pahit. Kami ingin memastikan demokrasi bukan hanya milik mereka yang punya panggung atau dompet tebal, tapi milik setiap warga yang mendambakan kota yang jujur," ungkap Jhonny.
Menutup refleksinya, Jhonny mengutip pesan menyentuh dari seorang warga senior di Bantar Gebang, yang tetap semangat ke TPS meski fisik sudah renta. Motivasi warga tersebut sederhana, yaitu ingin cucunya tumbuh di kota yang jujur agar layak disebut 'Anak Patriot'.
"Kota yang jujur adalah cita-cita kami. Di hari jadi ke-18 ini, kami mengajak seluruh patriot Bekasi untuk tidak lelah menjadi saksi sejarah. Tolak amplopnya, laporkan kecurangannya. Suara Anda adalah senjata paling ampuh di zaman modern ini," pungkasnya. (Pandu)



