![]() |
| Jenazah Nuryati (63) saat tiba di rumahnya di Jakarta |
inijabar.com, Jakarta- Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sederhana di kawasan Kemayoran Jakarta , Selasa (28/4/2026) dini hari. Isak tangis pecah saat ambulans yang membawa jenazah Nurhayati (63) tiba.
Perempuan paruh baya itu menjadi salah satu korban jiwa dalam kecelakaan tragis yang terjadi pada Senin malam (27/4/2026).
Kehadiran ambulan yang membawa jenazah Nurhayati bukan sekadar membawa kabar duka, tetapi juga menghadirkan kenyataan pahit yang sulit diterima keluarga. Di tengah gelapnya malam, tangisan tak terbendung mengiringi prosesi penurunan jenazah.
Sejumlah anggota keluarga tampak terpukul, sebagian lainnya hanya bisa terdiam, mencoba mencerna kehilangan yang datang begitu tiba-tiba.
Nurhayati sebelumnya diketahui tengah dalam perjalanan menggunakan KRL commuter line menuju Sukatani, Bekasi, untuk mengunjungi anaknya.
Perjalanan yang seharusnya menjadi rutinitas sederhana itu justru berubah menjadi perjalanan terakhir. Dalam insiden yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL, korban dilaporkan mengalami luka parah di bagian wajah, indikasi kerasnya benturan yang terjadi.
“Beliau cuma mau nengok anaknya,” ujar salah satu kerabat dengan suara bergetar.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa dekat dan manusiawinya tragedi ini bukan sekadar angka korban, melainkan kisah seorang ibu yang tak pernah sampai ke tujuan.
Di rumah duka, suasana terus diliputi kesedihan. Tetangga dan kerabat berdatangan memberikan dukungan. Namun, di balik pelukan dan doa, tersimpan pertanyaan besar yang belum terjawab: bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi?
Tragedi di lintasan ini kembali mengingatkan rapuhnya keselamatan transportasi massal jika pengawasan dan sistem tak berjalan optimal. Di satu sisi, kereta api menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat urban. Namun di sisi lain, insiden seperti ini menyisakan trauma mendalam bagi keluarga korban.
Bagi keluarga Nuryati, kehilangan ini bukan hanya soal kepergian, tetapi juga tentang harapan yang terputus. Sosok yang sehari-hari hadir kini hanya tinggal kenangan. Tangis yang pecah dini hari itu seolah menjadi simbol duka yang lebih luas—duka masyarakat atas keselamatan yang dipertanyakan, dan atas nyawa yang tak seharusnya melayang.
Sementara proses investigasi masih berlangsung, satu hal yang pasti: di balik setiap tragedi, selalu ada cerita manusia yang tertinggal. Dan di Bekasi Timur malam itu, cerita itu bernama Nuryati seorang ibu yang tak pernah sampai ke tujuan.
Sementara itu update terkini korban meninggal bertambah jadi 14 orang dan korban luka 81 orang.(*)



